Jumat, 26 Desember 2025

Himpunan Alumni IPB Sulawesi Tengah Hadiri Munas Alumni IPB Tahun 2025: Meneguhkan Jejaring, Menguatkan Kiprah


Lanskap Kampus IPB Dramaga kembali menjadi saksi bisu berkumpulnya ribuan pemikiran hebat dalam perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) Alumni IPB Tahun 2025. Pertemuan akbar ini bukan sekadar agenda rutin organisasi setiap beberapa tahun sekali, melainkan sebuah ruang refleksi untuk memperkuat struktur kepengurusan sekaligus menyegarkan kembali visi kolektif di tengah perubahan zaman yang kian cepat. Bagi kami, Munas adalah titik temu di mana semangat almamater dipadukan dengan strategi nyata untuk memperluas kontribusi alumni bagi kedaulatan bangsa.

Lebih dari sekadar sidang formal, Munas kali ini membawa beban moral yang cukup besar. Di tengah tantangan krisis pangan global dan perubahan iklim, alumni IPB dituntut untuk melampaui sekat-sekat profesi demi melahirkan solusi yang aplikatif. Atmosfer diskusi di setiap sudut kampus, mulai dari koridor hingga ruang sidang, menunjukkan energi luar biasa bahwa alumni bukan hanya aset masa lalu, melainkan penggerak masa depan yang siap bertransformasi demi kemajuan sektor agromaritim Indonesia.

Dalam kesempatan yang sangat berharga ini, Himpunan Alumni IPB Sulawesi Tengah (HA-IPB Sulteng) hadir sebagai representasi penting dari wilayah timur Indonesia. Kehadiran delegasi kami di Bogor bukan hanya untuk mengisi kursi undangan, melainkan membawa amanah dan harapan dari para pejuang pertanian di Bumi Tadulako. Kami datang untuk menegaskan bahwa jarak ribuan kilometer dari ibu kota bukanlah penghalang bagi kami untuk tetap bersinergi, menjaga martabat almamater, dan mengambil peran sentral dalam pembangunan di daerah.

Partisipasi Aktif Alumni Sulawesi Tengah

​Selama beberapa hari di Bogor, delegasi HA-IPB Sulteng terlibat penuh dalam dinamika Munas, mulai dari jalannya sidang pleno yang menentukan arah organisasi hingga sesi diskusi strategis di tingkat komisi. Partisipasi ini tidak berhenti pada urusan prosedural semata, melainkan merambah ke forum-forum jejaring yang lebih cair, di mana alumni lintas angkatan dan lintas fakultas saling bertukar gagasan tanpa sekat senioritas yang kaku.

Ruang-ruang diskusi ini menjadi wadah bagi kami untuk membedah berbagai isu strategis, seperti:

·        Redesain kebijakan organisasi alumni nasional agar lebih responsif terhadap kebutuhan anggota di daerah.

·          Pembangunan ekosistem kerja sama antar-wilayah yang lebih solid dan saling menguntungkan.

·      Akselerasi kontribusi alumni dalam inovasi sektor pertanian, perikanan, dan kelestarian lingkungan hidup.

·          Peningkatan peran strategis alumni sebagai think-tank dalam pengambilan kebijakan pembangunan di tingkat daerah maupun nasional.

​Kehadiran kami juga berfungsi sebagai jembatan informasi untuk menyuarakan potensi sekaligus tantangan unik yang dihadapi Sulawesi Tengah. Dengan berinteraksi langsung bersama para pengurus pusat dan pakar dari daerah lain, kami berupaya memastikan bahwa arus pengetahuan dan dukungan kebijakan tidak lagi hanya berpusat di Pulau Jawa. Semangat kekeluargaan yang begitu kental selama Munas membuktikan bahwa ikatan batin sebagai insan IPB tetap menyala kuat, meski sehari-hari kami mengabdi jauh di pelosok nusantara.

Menguatkan Peran Alumni di Daerah

Alumni IPB di Sulawesi Tengah telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi pembangunan daerah. Kami bergerak di berbagai lini, mulai dari penguatan sektor pertanian rakyat, modernisasi perikanan, perlindungan lingkungan, hingga upaya pemberdayaan masyarakat desa. Lewat Munas ini, kami ingin memastikan bahwa gerakan yang kami bangun di daerah memiliki landasan yang selaras dengan gerakan nasional, sehingga dampaknya bisa lebih masif dan terukur.

​Beberapa agenda prioritas yang secara konsisten diusung oleh delegasi Sulteng dalam ajang ini meliputi:

·                 ​Membangun kolaborasi program lintas regional yang mampu menjawab persoalan lokal secara kolektif.

·                 Menginisiasi dukungan nasional bagi kegiatan pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kapasitas SDM di Sulawesi Tengah.

·                 Membuka peluang kerja sama strategis dalam bidang riset terapan dan inovasi teknologi yang ramah lahan.

·                 Memperkuat jalur komunikasi alumni antar-fakultas guna membangun tim multidisiplin yang lebih tangguh di daerah.

​Kami sangat menyadari bahwa kekayaan sumber daya alam Sulawesi Tengah masih memerlukan sentuhan inovasi yang tepat sasaran agar tidak terjebak pada eksploitasi semata. Melalui jejaring yang terbentuk di Munas, kami berupaya menarik minat rekan-rekan alumni dari berbagai latar belakang untuk melirik potensi di Sulteng. Kami ingin setiap ilmu yang kami bawa pulang dari Dramaga bisa diterjemahkan menjadi kesejahteraan nyata bagi para petani dan nelayan yang selama ini menjadi mitra perjuangan kami di Bumi Tadulako.

Menyambung Rindu: Kembali ke Kampus sebagai Alumni

​Munas 2025 juga menjadi sebuah perjalanan batin dan nostalgia yang luar biasa emosional bagi delegasi Sulteng. Menginjakkan kaki kembali di Kampus Dramaga seolah memutar balik jarum jam, membawa ingatan kami pada riuhnya ruang kelas, dinamika organisasi mahasiswa, hingga keteduhan spiritual yang selalu ditawarkan oleh Masjid Al Hurriyah. Setiap sudut kampus seakan bercerita tentang perjuangan masa muda yang penuh dengan idealisme.

Bagi saya pribadi, momen yang paling membahagiakan adalah saat takdir mempertemukan kembali saya dengan sahabat-sahabat karib. Senang sekali rasanya bisa berjabat tangan dan berangkulan lagi dengan Yeldi S. Adel, Jhefri Marshuda, Suardi Laheng, Roni Hermawan, Hasrudin Usman, dan Marna. Kami bukan sekadar teman kuliah saat menempuh S2 di IPB, melainkan tim solid yang pernah bersama-sama membesarkan Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Sulawesi Tengah. Ingatan saya langsung melayang pada masa-masa kami sibuk mengelola diskusi rutin, seminar nasional, hingga keringat dan tawa saat menyukseskan event nasional Pakanasika.

Bahkan, memori yang tak kalah hangat adalah kebersamaan di dapur perantauan. Kami sering memasak dan menyantap menu khas Sulawesi Tengah untuk mengobati kerinduan pada kampung halaman; mulai dari gurihnya uta dada, segarnya uta kelor, coto, borongko, pisang ijo, binte, hingga tinutuan. Tak ketinggalan, pertemuan dengan Zulfikar Mulieng, teman sekelas saya di program studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan asal Aceh Utara, menambah lengkap suasana reuni ini. Cerita-cerita seru dari masa kuliah antara tahun 2014–2017 seolah baru terjadi kemarin sore. Pertemuan ini benar-benar menjadi "pulang" dalam arti yang sesungguhnya kembali ke akar yang membentuk cara berpikir dan karakter kami hari ini.

Harapan dan Komitmen ke Depan

​Melalui semangat yang dihimpun dari Munas Alumni IPB Tahun 2025, HA-IPB Sulawesi Tengah kembali mempertegas komitmen pengabdiannya. Kami pulang tidak hanya membawa setumpuk hasil keputusan sidang, tetapi membawa api semangat baru untuk terus bergerak di daerah. Kami bertekad agar wadah alumni ini menjadi rumah yang inklusif, tempat setiap alumni Sulteng bisa saling mendukung dan berkolaborasi.

​Beberapa langkah konkret yang menjadi fokus kami ke depan antara lain:

·                 Menjadikan wadah alumni daerah sebagai pusat inkubasi ide-ide segar bagi pembangunan lokal.

·                 Mengintensifkan kegiatan sosial dan edukatif yang berdampak langsung pada masyarakat akar rumput.

·                 Mendorong terciptanya kerja sama strategis antara pemerintah daerah dengan jaringan profesional alumni.

·                 Memberikan kontribusi nyata bagi almamater melalui prestasi dan kiprah nyata di berbagai bidang profesi.

​Kami meyakini bahwa tantangan di Sulawesi Tengah memerlukan sinergi kolektif. Dengan membawa nilai-nilai integritas yang telah diajarkan di IPB, kami siap menjadi motor penggerak perubahan. Semangat "IPB untuk Indonesia" bukan sekadar slogan di spanduk Munas, melainkan janji yang akan terus kami rawat dalam setiap langkah pengabdian di Bumi Tadulako.

Penutup

​Kehadiran Himpunan Alumni IPB Sulawesi Tengah dalam Munas 2025 ini adalah bukti nyata dari sebuah komitmen yang tak lekang oleh waktu. Ini bukan sekadar seremonial organisasi, melainkan wujud rasa cinta dan tanggung jawab kami terhadap masa depan almamater dan kontribusinya bagi masyarakat luas. Di sini, segala perbedaan latar belakang dan usia lebur dalam satu identitas besar: insan IPB yang terpanggil untuk memberi manfaat.

Munas telah menjadi panggung besar bagi kita untuk memperkuat jejaring, meluaskan cakrawala gagasan, dan memperdalam rasa memiliki terhadap rumah besar IPB. Kebersamaan yang terjalin selama di Bogor akan menjadi bahan bakar bagi kami untuk terus berinovasi dan menebar manfaat sekembalinya ke Sulawesi Tengah. Kami pulang dengan keyakinan bahwa sinergi yang kuat adalah kunci untuk menghadapi ketidakpastian masa depan.

Pada akhirnya, IPB akan selalu menjadi tempat kembali. Sebuah rumah di mana rindu bermuara, semangat diperbarui, dan cita-cita untuk melayani sesama akan selalu mendapatkan ruang untuk tumbuh dengan subur. Sampai jumpa di karya-karya selanjutnya, demi kemajuan daerah dan bangsa yang kita cintai.

 


Kamis, 25 Desember 2025

Kembali ke IPB: Jejak Perjalanan, Rasa Syukur, dan Harapan Baru


Ada perjalanan yang tampak sederhana saat dijalani, namun ketika waktu mengajak kita menoleh ke belakang, barulah terlihat bahwa setiap langkah sebenarnya sedang dirangkai dengan rapi oleh takdir. Sering kali, kita tidak menyadari bahwa sebuah kunjungan singkat, pertemuan kecil, atau pengalaman sementara, kelak menjadi bab penting dalam hidup. Begitulah hubungan saya dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) tempat yang menyimpan banyak cerita, pembelajaran, dan perubahan diri.

Sejujurnya, saya tidak pernah menyangka bahwa kampus ini akan menjadi bagian besar dari identitas saya. Dulu, IPB bagi saya hanyalah sebuah nama besar di bidang pertanian, namun seiring berjalannya waktu, ia bertransformasi menjadi rumah kedua. Setiap kali saya kembali ke kampus ini, ada rasa hangat yang muncul begitu saja. Seolah-olah tempat ini bukan sekadar ruang akademik, tetapi bagian dari perjalanan spiritual, intelektual, sekaligus emosional yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih matang.

Bermula dari Benih yang Tertanam Diam-Diam

​Sekitar satu tahun sebelum resmi menjadi mahasiswa S2 di IPB, saya sempat datang ke kampus ini hanya untuk mengikuti pelatihan Tanaman Obat Keluarga. Tujuannya sederhana saja: belajar hal baru. Saat itu, sama sekali tidak ada bayangan bahwa suatu saat saya akan menghabiskan tiga tahun perjalanan akademik di sini. Saya hanya datang sebagai orang asing yang ingin menyerap ilmu praktis tentang tanaman herbal.

Namun, pelatihan singkat itulah yang justru menjadi pintu awal yang tidak saya sadari. Selama pelatihan, saya tidak hanya sibuk mencatat materi, tapi juga terpikat oleh ritme kehidupan di sini. Saya melihat bagaimana para praktisi dan dosen berinteraksi dengan penuh dedikasi, seolah setiap jengkal tanah di kampus ini memiliki nilai ilmu.

Saya masih ingat atmosfer ilmiah yang begitu hidup di setiap sudut kampus, serta ketenangan dari pepohonan rindang khas IPB yang sejuk di mata. Waktu itu saya belum paham maknanya, tapi ada perasaan familiar yang muncul seolah kampus ini sedang menyapa dan menanamkan benih untuk perjalanan panjang yang akan datang. Perasaan "pulang" itu sudah ada sejak kunjungan pertama tersebut, meski saya belum tahu kapan saya akan benar-benar kembali.

Tahun-Tahun yang Mengubah Cara Pandang

​Tak lama setelah kunjungan itu, pintu besar benar-benar terbuka. Saya diterima sebagai mahasiswa S2 di Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan, dan mulai berkuliah dari tahun 2014 hingga lulus di 2017. Tiga tahun itu bukan sekadar masa belajar mengejar gelar, tapi benar-benar masa pembentukan diri yang fundamental.

Saya "tenggelam" dalam dunia akademik yang menantang namun sangat menyenangkan. Mulai dari membedah teori pembangunan, komunikasi, hingga dinamika sosial di tingkat desa. Banyak diskusi di kelas yang membuka cara pandang saya terhadap masyarakat dan bagaimana sebuah ilmu bisa diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan. Saya belajar bahwa pembangunan bukan hanya soal angka statistik, tapi soal bagaimana manusia di dalamnya berdaya dan bergerak maju.

Lebih dari sekadar materi kuliah, saya juga belajar tentang ketangguhan mental. Menghadapi tugas-tugas yang menumpuk, mengejar narasumber penelitian ke lapangan, hingga merumuskan tesis yang layak uji, semuanya adalah ujian kesabaran. Di IPB, saya diajarkan untuk tidak mudah puas dengan jawaban yang dangkal, melainkan selalu mencari akar masalah dengan pendekatan yang logis namun tetap humanis.

Ruang Tumbuh di Forum Mahasiswa Pascasarjana

​Di sela kesibukan kuliah, saya memutuskan untuk aktif di Forum Mahasiswa Pascasarjana IPB. Wadah inilah yang mempertemukan saya dengan teman-teman dari berbagai fakultas dan disiplin ilmu yang berbeda. Dari sini saya belajar banyak hal di luar bangku kelas: yaitu kepemimpinan, kerja kolaboratif, hingga cara membangun jejaring di tingkat yang lebih luas.

Setiap rapat dan kegiatan kampus menjadi proses pendewasaan karakter. Kami sering terlibat dalam diskusi lintas disiplin yang sangat kaya; seorang ahli sosial berbicara dengan ahli agronomi, atau ahli ekonomi berdiskusi dengan ahli lingkungan. Perbedaan sudut pandang ini justru menyatukan kami dalam visi yang lebih besar tentang bagaimana membawa perubahan bagi masyarakat.

Bahkan, banyak sahabat dan relasi profesional yang saya miliki hari ini bermula dari obrolan-obrolan di koridor forum tersebut. Kami tidak hanya berbagi beban soal tugas kuliah, tetapi juga berbagi mimpi dan strategi masa depan. Kebersamaan di forum ini menyadarkan saya bahwa intelektualitas akan jauh lebih bermakna jika disatukan dengan kemampuan berorganisasi dan empati sosial yang kuat.

Teduhnya Rabu Pagi di Masjid Al Hurriyah IPB

Ada satu rutinitas yang selalu punya tempat khusus di hati saya yaitu mengikuti pengajian setiap hari Rabu pagi di Masjid Al Hurriyah. Di tengah padatnya jadwal kuliah dan dinamika organisasi yang menguras energi, Al Hurriyah menjadi tempat saya "pulang" sejenak sebelum memulai hiruk-pikuk hari. Suasana pagi yang tenang di masjid ini memberikan kekuatan tersendiri untuk menghadapi tumpukan tugas.

Setiap pekan, saya duduk bersama jamaah lain di bawah kubah masjid yang ikonik itu, menyerap tausiyah yang menyejukkan tentang sabar, syukur, dan istiqamah. Sinar matahari pagi yang masuk di sela-sela arsitektur masjid, ditambah udara Dramaga yang masih segar, seolah mencuci semua rasa lelah dan stres akademik. Di sana, status sebagai mahasiswa pascasarjana sejenak dilepaskan, dan saya kembali menjadi hamba yang butuh bimbingan sebelum bergelut dengan teori dan jurnal.

Di sanalah saya belajar menyeimbangkan ambisi duniawi dengan ketenangan ruhani. Bagi saya, Al Hurriyah di Rabu pagi bukan sekadar rutinitas, tapi sebuah "asupan jiwa" yang membantu saya melewati masa studi dengan hati yang jauh lebih tenang. Pengalaman batin ini mengajarkan saya bahwa setinggi apa pun ilmu yang kita kejar, tanpa landasan spiritual yang kuat, ilmu itu akan kehilangan keberkahannya.

Kembali untuk Munas Alumni IPB

​Tahun demi tahun berlalu, dan kini langkah kaki membawa saya kembali ke IPB. Kali ini hadirnya bukan sebagai mahasiswa yang terburu-buru mengejar jadwal kelas, melainkan sebagai bagian dari kegiatan Munas Forum Alumni IPB. Rasanya sangat berbeda, ada haru sekaligus kebanggaan yang menyeruak saat melihat wajah-wajah lama yang kini sudah berkiprah di berbagai bidang.

Ada kedewasaan yang tumbuh, tapi kenangan lama mendadak hidup kembali dengan begitu nyata. Saya melihat kampus ini sudah banyak berubah, gedung-gedung semakin megah, fasilitasnya semakin lengkap, namun "ruh" keilmuannya tetap sama. Kehadiran saya di Munas ini menjadi ajakan untuk menoleh sejenak pada akar saya, pada tempat yang dulu memberi saya ruang untuk tumbuh dan berekspresi.

Saat berjalan melewati gedung-gedung tempat dulu belajar, lorong-lorong yang dulu penuh diskusi, hingga jalan setapak menuju Al Hurriyah, semuanya terasa seperti menyapa. Saya seperti melihat kembali versi diri saya yang dulu pernah tumbuh dan berjuang di sini. Reuni ini bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan momen pengingat tentang tanggung jawab moral yang kini saya emban sebagai seorang alumni.

Sebuah Harapan: Menjemput Langkah S3

​Di tengah keriuhan acara Munas, ada satu doa yang kembali menguat dalam hati saya: Semoga saya bisa kembali lagi ke IPB sebagai mahasiswa S3. Saya membayangkan diri saya kembali ke laboratorium, ke perpustakaan LSI, dan ke tengah-tengah masyarakat untuk melakukan riset yang lebih dalam dan berdampak.

Keinginan ini muncul bukan dari ambisi gelar belaka, tapi dari kesadaran bahwa masih banyak hal yang ingin saya kontribusikan. Saya membayangkan bisa duduk kembali beradu argumen dengan para profesor, memperkaya pemikiran saya, dan menghasilkan karya ilmiah yang bisa menjadi solusi nyata bagi pembangunan bangsa. Saya memohon semoga Allah memudahkan jalan itu, membuka pintu kesempatan, dan memberikan kekuatan untuk melangkah lagi di jalur akademik ini.

Sebab bagi saya, perjalanan menuntut ilmu bukan hanya soal menambah deretan gelar di belakang nama, tapi soal memperluas manfaat dan memperdalam pengabdian. Saya percaya bahwa belajar adalah proses seumur hidup, dan IPB adalah tempat terbaik bagi saya untuk melanjutkan perjuangan intelektual tersebut demi kemaslahatan yang lebih besar.

Perjalanan yang Belum Usai

​Jika saya melihat perjalanan ini sebagai garis lurus, mungkin akan tampak biasa. Tapi ketika saya melihatnya sebagai rangkaian titik yang saling terhubung dari pelatihan sederhana, menjadi mahasiswa S2, aktif organisasi, rutin mengaji di Rabu pagi, hingga hadir di Munas Alumni saya menyadari satu hal yang fundamental: Allah mengatur setiap pertemuan dan kejadian dengan sangat indah.

Setiap bab dalam hidup saya di IPB adalah bagian dari skenario besar yang sedang membentuk masa depan saya. Tidak ada yang sia-sia dari setiap tetes keringat saat mengerjakan tesis maupun setiap menit yang dihabiskan untuk merenung di teras masjid. Semuanya menyatu menjadi sebuah harmoni perjalanan yang penuh hikmah dan pelajaran berharga.

Perjalanan saya bersama IPB belum selesai. Masih ada harapan, doa, dan langkah-langkah baru yang ingin saya tempuh dengan penuh semangat. Semoga perjalanan ini terus berlanjut dengan kebaikan yang semakin luas, dan semoga suatu hari nanti, saya bisa menuliskan bab baru tentang keberhasilan menyelesaikan jenjang tertinggi di kampus tercinta ini.

 


Reuni 15 Tahun di Hotel Alatas Antara Tonjokan Sayang dan Semangat Desa Iklim

Kadang hidup memang punya cara sendiri buat kasih kejutan. Kemarin niat saya ke Hotel Alatas Tolitoli cuma satu hadir di acara Sosialisasi P...