Lanskap Kampus IPB Dramaga kembali menjadi saksi
bisu berkumpulnya ribuan pemikiran hebat dalam perhelatan Musyawarah Nasional
(Munas) Alumni IPB Tahun 2025. Pertemuan akbar ini bukan sekadar agenda rutin
organisasi setiap beberapa tahun sekali, melainkan sebuah ruang refleksi untuk
memperkuat struktur kepengurusan sekaligus menyegarkan kembali visi kolektif di
tengah perubahan zaman yang kian cepat. Bagi kami, Munas adalah titik temu di
mana semangat almamater dipadukan dengan strategi nyata untuk memperluas
kontribusi alumni bagi kedaulatan bangsa.
Lebih dari sekadar sidang formal, Munas kali ini
membawa beban moral yang cukup besar. Di tengah tantangan krisis pangan global
dan perubahan iklim, alumni IPB dituntut untuk melampaui sekat-sekat profesi
demi melahirkan solusi yang aplikatif. Atmosfer diskusi di setiap sudut kampus,
mulai dari koridor hingga ruang sidang, menunjukkan energi luar biasa bahwa
alumni bukan hanya aset masa lalu, melainkan penggerak masa depan yang siap
bertransformasi demi kemajuan sektor agromaritim Indonesia.
Dalam kesempatan yang sangat berharga ini,
Himpunan Alumni IPB Sulawesi Tengah (HA-IPB Sulteng) hadir sebagai representasi
penting dari wilayah timur Indonesia. Kehadiran delegasi kami di Bogor bukan
hanya untuk mengisi kursi undangan, melainkan membawa amanah dan harapan dari
para pejuang pertanian di Bumi Tadulako. Kami datang untuk menegaskan bahwa
jarak ribuan kilometer dari ibu kota bukanlah penghalang bagi kami untuk tetap
bersinergi, menjaga martabat almamater, dan mengambil peran sentral dalam
pembangunan di daerah.
Partisipasi Aktif Alumni Sulawesi Tengah
Selama beberapa hari di Bogor,
delegasi HA-IPB Sulteng terlibat penuh dalam dinamika Munas, mulai dari
jalannya sidang pleno yang menentukan arah organisasi hingga sesi diskusi
strategis di tingkat komisi. Partisipasi ini tidak berhenti pada urusan
prosedural semata, melainkan merambah ke forum-forum jejaring yang lebih cair,
di mana alumni lintas angkatan dan lintas fakultas saling bertukar gagasan
tanpa sekat senioritas yang kaku.
Ruang-ruang diskusi ini
menjadi wadah bagi kami untuk membedah berbagai isu strategis, seperti:
· Redesain
kebijakan organisasi alumni nasional agar lebih responsif terhadap kebutuhan
anggota di daerah.
· Pembangunan
ekosistem kerja sama antar-wilayah yang lebih solid dan saling menguntungkan.
· Akselerasi
kontribusi alumni dalam inovasi sektor pertanian, perikanan, dan kelestarian
lingkungan hidup.
· Peningkatan
peran strategis alumni sebagai think-tank dalam pengambilan kebijakan
pembangunan di tingkat daerah maupun nasional.
Kehadiran kami juga berfungsi sebagai jembatan informasi untuk menyuarakan potensi sekaligus tantangan unik yang dihadapi Sulawesi Tengah. Dengan berinteraksi langsung bersama para pengurus pusat dan pakar dari daerah lain, kami berupaya memastikan bahwa arus pengetahuan dan dukungan kebijakan tidak lagi hanya berpusat di Pulau Jawa. Semangat kekeluargaan yang begitu kental selama Munas membuktikan bahwa ikatan batin sebagai insan IPB tetap menyala kuat, meski sehari-hari kami mengabdi jauh di pelosok nusantara.
Menguatkan Peran Alumni di Daerah
Alumni IPB di Sulawesi Tengah telah lama menjadi
bagian tak terpisahkan dari denyut nadi pembangunan daerah. Kami bergerak di
berbagai lini, mulai dari penguatan sektor pertanian rakyat, modernisasi
perikanan, perlindungan lingkungan, hingga upaya pemberdayaan masyarakat desa.
Lewat Munas ini, kami ingin memastikan bahwa gerakan yang kami bangun di daerah
memiliki landasan yang selaras dengan gerakan nasional, sehingga dampaknya bisa
lebih masif dan terukur.
Beberapa agenda
prioritas yang secara konsisten diusung oleh delegasi Sulteng dalam ajang ini
meliputi:
·
Membangun
kolaborasi program lintas regional yang mampu menjawab persoalan lokal secara
kolektif.
·
Menginisiasi
dukungan nasional bagi kegiatan pemberdayaan masyarakat dan peningkatan
kapasitas SDM di Sulawesi Tengah.
·
Membuka
peluang kerja sama strategis dalam bidang riset terapan dan inovasi teknologi
yang ramah lahan.
·
Memperkuat
jalur komunikasi alumni antar-fakultas guna membangun tim multidisiplin yang
lebih tangguh di daerah.
Kami sangat menyadari bahwa kekayaan sumber daya
alam Sulawesi Tengah masih memerlukan sentuhan inovasi yang tepat sasaran agar
tidak terjebak pada eksploitasi semata. Melalui jejaring yang terbentuk di
Munas, kami berupaya menarik minat rekan-rekan alumni dari berbagai latar
belakang untuk melirik potensi di Sulteng. Kami ingin setiap ilmu yang kami
bawa pulang dari Dramaga bisa diterjemahkan menjadi kesejahteraan nyata bagi
para petani dan nelayan yang selama ini menjadi mitra perjuangan kami di Bumi
Tadulako.
Menyambung Rindu: Kembali ke Kampus sebagai
Alumni
Munas 2025 juga menjadi sebuah
perjalanan batin dan nostalgia yang luar biasa emosional bagi delegasi Sulteng.
Menginjakkan kaki kembali di Kampus Dramaga seolah memutar balik jarum jam,
membawa ingatan kami pada riuhnya ruang kelas, dinamika organisasi mahasiswa,
hingga keteduhan spiritual yang selalu ditawarkan oleh Masjid Al Hurriyah.
Setiap sudut kampus seakan bercerita tentang perjuangan masa muda yang penuh
dengan idealisme.
Bagi saya pribadi, momen yang paling
membahagiakan adalah saat takdir mempertemukan kembali saya dengan
sahabat-sahabat karib. Senang sekali rasanya bisa berjabat tangan dan
berangkulan lagi dengan Yeldi S. Adel, Jhefri Marshuda, Suardi Laheng, Roni
Hermawan, Hasrudin Usman, dan Marna. Kami bukan sekadar teman kuliah saat
menempuh S2 di IPB, melainkan tim solid yang pernah bersama-sama membesarkan
Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Sulawesi Tengah. Ingatan saya langsung melayang
pada masa-masa kami sibuk mengelola diskusi rutin, seminar nasional, hingga
keringat dan tawa saat menyukseskan event nasional Pakanasika.
Bahkan, memori yang tak
kalah hangat adalah kebersamaan di dapur perantauan. Kami sering memasak dan
menyantap menu khas Sulawesi Tengah untuk mengobati kerinduan pada kampung
halaman; mulai dari gurihnya uta dada, segarnya uta kelor, coto, borongko,
pisang ijo, binte, hingga tinutuan. Tak ketinggalan, pertemuan dengan Zulfikar
Mulieng, teman sekelas saya di program studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan asal
Aceh Utara, menambah lengkap suasana reuni ini. Cerita-cerita seru dari masa
kuliah antara tahun 2014–2017 seolah baru terjadi kemarin sore. Pertemuan ini
benar-benar menjadi "pulang" dalam arti yang sesungguhnya kembali ke
akar yang membentuk cara berpikir dan karakter kami hari ini.
Harapan dan Komitmen ke Depan
Melalui semangat yang dihimpun dari Munas Alumni
IPB Tahun 2025, HA-IPB Sulawesi Tengah kembali mempertegas komitmen
pengabdiannya. Kami pulang tidak hanya membawa setumpuk hasil keputusan sidang,
tetapi membawa api semangat baru untuk terus bergerak di daerah. Kami bertekad
agar wadah alumni ini menjadi rumah yang inklusif, tempat setiap alumni Sulteng
bisa saling mendukung dan berkolaborasi.
Beberapa langkah konkret
yang menjadi fokus kami ke depan antara lain:
·
Menjadikan
wadah alumni daerah sebagai pusat inkubasi ide-ide segar bagi pembangunan
lokal.
·
Mengintensifkan
kegiatan sosial dan edukatif yang berdampak langsung pada masyarakat akar
rumput.
·
Mendorong
terciptanya kerja sama strategis antara pemerintah daerah dengan jaringan
profesional alumni.
·
Memberikan
kontribusi nyata bagi almamater melalui prestasi dan kiprah nyata di berbagai
bidang profesi.
Kami meyakini bahwa tantangan di Sulawesi Tengah
memerlukan sinergi kolektif. Dengan membawa nilai-nilai integritas yang telah
diajarkan di IPB, kami siap menjadi motor penggerak perubahan. Semangat
"IPB untuk Indonesia" bukan sekadar slogan di spanduk Munas,
melainkan janji yang akan terus kami rawat dalam setiap langkah pengabdian di
Bumi Tadulako.
Penutup
Kehadiran Himpunan Alumni IPB Sulawesi Tengah
dalam Munas 2025 ini adalah bukti nyata dari sebuah komitmen yang tak lekang
oleh waktu. Ini bukan sekadar seremonial organisasi, melainkan wujud rasa cinta
dan tanggung jawab kami terhadap masa depan almamater dan kontribusinya bagi
masyarakat luas. Di sini, segala perbedaan latar belakang dan usia lebur dalam
satu identitas besar: insan IPB yang terpanggil untuk memberi manfaat.
Munas telah menjadi panggung besar bagi kita
untuk memperkuat jejaring, meluaskan cakrawala gagasan, dan memperdalam rasa
memiliki terhadap rumah besar IPB. Kebersamaan yang terjalin selama di Bogor
akan menjadi bahan bakar bagi kami untuk terus berinovasi dan menebar manfaat
sekembalinya ke Sulawesi Tengah. Kami pulang dengan keyakinan bahwa sinergi
yang kuat adalah kunci untuk menghadapi ketidakpastian masa depan.
Pada akhirnya, IPB akan selalu menjadi tempat
kembali. Sebuah rumah di mana rindu bermuara, semangat diperbarui, dan
cita-cita untuk melayani sesama akan selalu mendapatkan ruang untuk tumbuh
dengan subur. Sampai jumpa di karya-karya selanjutnya, demi kemajuan daerah dan
bangsa yang kita cintai.













