Perubahan iklim bukan lagi sekadar dongeng sains yang
hanya diperdebatkan di ruang seminar atau isu masa depan yang jauh di
cakrawala. Ia adalah realitas pahit yang hari ini mengetuk pintu rumah kita
tanpa permisi. Kita melihatnya pada kalender tanam para petani cengkeh di
Tolitoli yang kini kian kacau akibat anomali cuaca hingga ancaman keselamatan
serta penurunan hasil tangkap para nelayan di pesisir Buol akibat gelombang
yang tak lagi bisa diprediksi. Suhu yang kian ekstrem dan pergeseran musim yang
tidak menentu adalah sinyal kuat bahwa alam sedang mengirimkan pesan darurat
kepada kita semua. Fenomena ini bukan lagi sekadar deretan angka di atas kertas
penelitian melainkan ancaman langsung yang nyata bagi kedaulatan pangan dan
fondasi kesejahteraan keluarga di pedesaan.
Hari ini saya berkesempatan hadir dalam kegiatan Sosialisasi
Program Kampung Iklim (ProKlim) yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan
Hidup Provinsi Sulawesi Tengah di Hotel Alatas Tolitoli. Di ruangan ini saya
melihat optimisme terpancar dari wajah para penggerak desa, aparatur
pemerintah, dan para pemerhati lingkungan yang hadir. Namun di balik antusiasme
tersebut tersimpan tanya besar di benak saya mengenai bagaimana kita memastikan
semangat yang meluap-luap ini tidak padam begitu saja saat pintu aula ditutup
dan acara resmi berakhir. Kita sering kali terjebak dalam euforia seremoni
namun kehilangan napas dalam implementasi jangka panjang.
Sebagai seorang akademisi dan Ketua DPC Himpunan Alumni
IPB (HA IPB) Buol, kehadiran saya di forum ini bukan sekadar untuk memenuhi
undangan formal atau menggugurkan kewajiban. Ada kegelisahan akademis sekaligus
semangat pengabdian yang ingin saya bagikan kepada rekan-rekan semua. Saya
memandang ProKlim bukan sebagai beban administratif baru yang menambah
pekerjaan pemerintah desa melainkan sebagai peluang emas untuk menata ulang
kemandirian masyarakat di tingkat tapak. ProKlim harus menjadi momentum untuk
mengembalikan kearifan lokal yang dipadukan dengan sains modern guna
menciptakan desa yang resilien.
Pelajaran
dari Tanah Tadulako hingga Kampus Rakyat IPB
Perjalanan intelektual saya dalam memahami hubungan
kompleks antara manusia dan lingkungan dimulai di Universitas Tadulako. Saat S1
saya kuliah di program studi agronomi di mana saya mulai jatuh cinta pada dunia
mikrobiologi tanah dan manajemen pengelolaan limbah organik. Fokus saya kala
itu sangat teknis yaitu mencari solusi sederhana namun aplikatif bagi masalah
lingkungan di sekitar kita. Saya meneliti bagaimana limbah organik yang sering
dianggap sebagai sampah visual dan sumber bau bisa disulap menjadi sesuatu yang
bernilai ekonomis tinggi melalui teknologi pupuk Kascing atau Bekas Cacing.
Namun dunia riset memberikan saya pelajaran tentang
kerendahan hati dan ketelitian yang luar biasa. Saat itu hasil riset saya tidak
menggembirakan karena pertumbuhan tanaman tidak sesuai dengan teori serta hasil
riset terdahulu yang relevan. Setelah dilakukan penelusuran mendalam ternyata
penyebab utamanya adalah pupuk kascing yang saya gunakan belum matang secara
fisik dan kimia. Hal ini menjadi catatan kritis yang sangat penting karena
jarang diketahui oleh petani di lapangan. Banyak petani yang merasa skeptis
terhadap pupuk organik hanya karena mereka menggunakan produk yang belum matang
sehingga justru menghambat pertumbuhan tanaman. Pengalaman ini mengajarkan saya
bahwa solusi teknis tidak hanya harus tersedia secara murah tetapi harus
disertai dengan pemahaman mendalam mengenai standar kualitas agar tidak menjadi
bumerang bagi pengguna.
Seiring berjalannya waktu saya menyadari bahwa
kecanggihan teknologi pertanian hanyalah satu sisi dari mata uang pembangunan.
Perjalanan saya kemudian berlanjut ke IPB University untuk menempuh studi
Magister di bidang Penyuluhan Pembangunan. Di Kampus Rakyat inilah paradigma
saya berubah secara total. Saya mulai melihat pembangunan bukan lagi sekadar
urusan angka produksi atau pertumbuhan tanaman melainkan dari sudut pandang
sosiologis dan psikologi kemasyarakatan. Ternyata kemajuan sebuah desa tidak
pernah ditentukan oleh seberapa canggih alat atau seberapa banyak benih yang
diberikan oleh pemerintah melainkan oleh manusia-manusia di dalamnya.
Misteri
12 Desa Penyangga IPB: Mengapa Program Gagal?
Kesadaran sosiologis ini semakin kuat saat saya
melakukan riset tesis di 12 desa yang melingkari kampus IPB Bogor.
Wilayah-wilayah ini mendapatkan intervensi yang sangat serius melalui program
Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
Logikanya dengan pendampingan langsung dari pakar pertanian terbaik di negeri
ini seluruh desa tersebut seharusnya sukses besar dalam menciptakan kemandirian
pangan yang berkelanjutan. Namun kenyataan di lapangan sungguh kontras.
Faktanya dari 12 desa tersebut hanya 2 desa yang kelompoknya benar-benar
bertahan dan berkembang secara mandiri.
Sepuluh desa lainnya perlahan kembali ke pola lama di
mana lahan pekarangan kembali terbengkalai dan kelompok tani hanya menjadi nama
tanpa aktivitas di atas kertas. Hasil analisis mendalam saya menunjukkan satu
benang merah yang sangat tebal bahwa keberhasilan sebuah program lingkungan
sangat bergantung pada Kepemimpinan Lokal dan Kedinamisan Kelompok. Di desa
yang sukses terdapat sosok penggerak yang mampu membangun komunikasi dua arah
serta menciptakan rasa memiliki yang kuat di antara anggota. Mereka tidak
memandang program sebagai proyek pemberian pemerintah yang bisa ditinggalkan
begitu saja melainkan sebagai kebutuhan bersama untuk bertahan hidup dan sejahtera.
ProKlim
Sulawesi Tengah: Melampaui Sekadar Proyek
Berdasarkan refleksi panjang tersebut saya meyakini
bahwa di Sulawesi Tengah khususnya di Tolitoli dan Buol kita harus membangun
gerakan ProKlim yang berakar kuat dari bawah atau bottom-up melalui empat pilar
strategis.
a. Pertama, kita
butuh teknologi yang membumi namun tetap berkualitas. Inovasi seperti pupuk
organik harus diajarkan dengan SOP yang benar agar hasilnya konsisten dan tidak
mengecewakan petani. Kita harus memastikan bahwa teknologi yang dibawa ke desa
adalah teknologi yang bisa dikuasai sepenuhnya oleh warga bukan teknologi yang
menciptakan ketergantungan pada pihak luar.
b. Kedua, penguatan
kelembagaan lokal adalah harga mati. Intervensi sosial harus berjalan
beriringan dengan intervensi teknis. Kita perlu menghidupkan kembali nyawa
dalam kelompok tani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) bukan hanya sebagai syarat
administrasi penerimaan bantuan tetapi sebagai wadah belajar dan berbagi
risiko.
c. Ketiga, integrasi
ekonomi hijau menjadi kunci keberlanjutan. Kita harus jujur bahwa sulit
mengajak masyarakat menjaga hutan atau menanam pohon jika perut mereka lapar.
Menjaga iklim harus berbanding lurus dengan upaya mengisi dapur. Saat
masyarakat merasakan manfaat ekonomi dari tanaman obat atau sayuran organik
maka mereka akan menjaga lingkungan dengan sendirinya tanpa perlu diawasi.
d. Keempat,
kolaborasi lintas sektor yang inklusif sangat diperlukan. Dinas Lingkungan
Hidup tidak mungkin memikul beban ini sendirian di pundaknya. Perlu ada sinergi
yang harmonis antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan organisasi
profesi seperti alumni perguruan tinggi. Di sinilah peran strategis alumni IPB
untuk turun gunung membawa ilmu dari ruang kelas ke tengah sawah serta membantu
menerjemahkan kebijakan pemerintah yang rumit menjadi aksi nyata yang mudah
dipahami oleh masyarakat kecil di pelosok desa.
Penutup:
Sebuah Panggilan untuk Berbakti
Sebagai penutup saya ingin menegaskan bahwa sudah
saatnya kita para akademisi dan kaum intelektual tidak hanya nyaman berdiam
diri di menara gading. Kita tidak boleh hanya menjadi pengamat di balik meja
atau sekadar kritikus di media sosial. Tugas besar kita hari ini adalah menjadi
jembatan yang kokoh untuk mendampingi masyarakat dari fase sekadar sadar akan
bahaya perubahan iklim hingga mereka benar-benar mandiri secara pengetahuan dan
ekonomi dalam melakukan mitigasi.
Sebagai Ketua DPC HA IPB Buol saya menyatakan kesiapan
penuh untuk menggerakkan seluruh potensi jejaring alumni yang kami miliki guna
mengawal program ProKlim ini di Sulawesi Tengah. Kita memiliki sumber daya
manusia, kita memiliki perangkat keilmuan, dan yang paling penting kita
memiliki semangat untuk membangun tanah kelahiran. Mari kita bangun desa-desa
yang tidak hanya tangguh menghadapi bencana iklim tetapi juga mandiri secara
pangan dan sejahtera secara ekonomi. Mari berkarya dengan nyata bukan sekadar
dengan kata-kata indah di atas podium.

























