Kadang hidup memang punya cara sendiri buat kasih
kejutan. Kemarin niat saya ke Hotel Alatas Tolitoli cuma satu hadir di acara
Sosialisasi Program Kampung Iklim ProKlim yang diadakan DLH Provinsi Sulteng.
Tapi begitu masuk aula rencana itu buyar seketika. Mata saya tertuju pada satu
sosok yang sangat saya kenal.
Beliau adalah Bapak Dr Ir Abd Rauf MS. Memori
saya langsung loncat ke belasan tahun lalu ke lorong-lorong Fakultas Pertanian
Universitas Tadulako. Pak Rauf ini dosen pembimbing skripsi saya dulu. Beliau
yang kawal langkah awal saya waktu masih jadi mahasiswa yang idealis tapi
sebenarnya masih buta soal urusan lapangan.
Coba bayangkan sudah 15 tahun sejak saya lulus kuliah.
Kami jalani garis hidup masing-masing dan tiba-tiba bertemu lagi di forum yang
sama. Rasanya luar biasa. Sekarang kami bukan lagi duduk sebagai dosen dan
mahasiswa yang sedang bimbingan tapi jadi mitra diskusi untuk memikirkan masa
depan lingkungan di Sulawesi Tengah. Pertemuan ini bagi saya seperti jawaban
atas perjalanan panjang yang sudah saya lalui selama ini.
Mentor
Kelas Dunia yang Tetap Membumi
Buat kawan-kawan di dunia pertanian atau riset nama Pak
Abd Rauf pasti sudah tidak asing. Beliau punya dedikasi yang ngeri di dunia
pendidikan. Kiprahnya tidak main-main sampai ke level internasional lewat FAO
Food and Agriculture Organization di bawah PBB. Rekam jejak beliau
membuktikan kalau ilmu dari kampus di Sulteng itu bisa mewarnai kebijakan
dunia.
Tapi buat saya Pak Rauf bukan cuma soal gelar atau
jabatan di PBB. Beliau adalah dosen yang cara mendidiknya sangat kena di
hati. Beliau tidak cuma ajarkan rumus atau metode penelitian yang rumit. Beliau
ajarkan mental. Saya ingat betul pesannya sarjana pertanian tidak boleh cuma
pintar di atas kertas tapi harus tahu betul aroma tanah dan bagaimana rasanya
keringat petani di sawah.
Satu hal yang tidak akan pernah saya lupa sampai kapan
pun adalah tonjokan sayang beliau. Dulu kalau bimbingan skripsi dan draf saya
masih kacau atau kalau saya sudah mulai malas-malasan beliau pasti kasih
tonjokan kecil di bahu. Itu cara unik beliau kasih semangat. Rasanya bukan
sakit tapi seperti disetrum untuk segera balik ke depan komputer dan selesaikan
revisi malam itu juga.
Tonjokan itu bukan sekadar gerakan tangan tapi transfer
energi. Itu yang bikin saya kuat lewatkan malam-malam riset di Palu sampai
akhirnya bisa lanjut kuliah Magister di IPB University. Tanpa bimbingan keras
tapi penuh kasih sayang dari beliau mungkin saya tidak akan punya daya tahan
untuk meneliti dinamika kelompok di 12 desa sekitar kampus Bogor dulu.
Dari
Skripsi Pindah ke Urusan Mitigasi Iklim
Melihat Pak Rauf masih sangat aktif dan bersemangat di
forum ProKlim ini benar-benar jadi tamparan positif buat saya. Beliau tunjukkan
kalau ilmu itu tidak ada masa pensiunnya. Kalau sang mentor yang sudah level
dunia saja masih mau turun gunung urus desa-desa di Tolitoli dan Buol rasanya
malu kalau saya yang lebih muda cuma jadi penonton di pinggir lapangan.
ProKlim yang kami diskusikan di Hotel Alatas ini memang
butuh orang-orang seperti beliau. Orang yang cerdas secara akademik tapi mau
rendah hati saat bicara dengan masyarakat di tingkat bawah. Perpaduan ilmu
agronomi yang beliau ajarkan dulu dengan ilmu penyuluhan pembangunan yang
saya pelajari di IPB sekarang menemukan titik temunya. Kita tidak bisa bicara
mitigasi iklim kalau tidak sentuh manusianya.
Pertemuan kemarin jadi pengingat keras buat saya. Ilmu
yang saya dapat 15 tahun lalu dari beliau tidak boleh menguap begitu saja. Ada
beban moral untuk teruskan api semangat beliau. ProKlim di Sulteng harus kita
kawal supaya tidak jadi sekadar acara seremonial di hotel. Program ini harus
bisa hidupkan kelompok tani perkuat peran ibu-ibu KWT dan bikin desa kita
tangguh hadapi cuaca ekstrem.
Penutup: Terus Nyalakan Api Semangat
Sehat selalu Pak Rauf. Terima kasih untuk bimbingannya
untuk tonjokan sayangnya dan untuk teladan yang Bapak kasih sampai hari ini.
Bertemu Bapak di acara DLH Provinsi ini rasanya seperti dapat baterai baru.
Pengabdian Bapak di FAO itu mimpi saya tapi kerja nyata Bapak buat petani lokal
itu inspirasi yang paling nyata buat saya.
Perjalanan saya mungkin sudah jauh dari Palu sampai ke
Bogor tapi akar ilmu saya tetap ada di Bumi Tadulako lewat bimbingan beliau.
Sebagai Ketua DPC HA IPB Buol saya makin merasa punya tugas besar untuk
pastikan sinergi antara guru dan murid ini berlanjut jadi aksi nyata di
lapangan.
Membangun Desa Iklim itu intinya adalah membangun
karakter orang-orang di dalamnya persis seperti Pak Rauf membangun karakter
saya 15 tahun lalu. Mari kita tanam masa depan ini sama-sama mulai dari desa
untuk Sulawesi Tengah yang lebih tangguh dan sejahtera.
Nah itu tadi sedikit cerita reuni saya di sela acara
ProKlim kemarin. Bertemu Pak Rauf mengingatkan saya bahwa perubahan besar
selalu dimulai dari bimbingan dan kolaborasi yang kuat. Kalau teman-teman
sendiri siapa sosok mentor atau dosen yang paling berkesan dan punya cara unik
saat mendidik kalian dulu. Dan menurut Bapak Ibu tantangan apa yang sebenarnya
paling berat dihadapi desa kita saat ini agar benar-benar tangguh terhadap
perubahan iklim. Mari kita bernostalgia sekaligus berdiskusi di kolom komentar
ya.
























