Jika ada satu
hal yang paling saya syukuri dari gelaran Sensus Ekonomi 2026 di Kecamatan
Baolan, Kabupaten Tolitoli, itu adalah orang-orang yang berjalan di samping
saya. Di balik ratusan data responden yang terisi di aplikasi FASIH dan setiap
peta wilayah yang berhasil disisir, ada sebuah mesin kecil yang bergerak tanpa
henti. Mesin itu adalah kolaborasi erat antara Petugas Pencacah Lapangan (PCL),
Pemeriksa Lapangan (PML), dan para Pendamping dari ASN BPS Kabupaten Tolitoli.
Menghadapi
medan Baolan yang begitu dinamis, bergerak sendirian tentu sebuah
ketidakmungkinan. Karakteristik wilayah tugas kami sangat beragam, mulai dari
padatnya pemukiman warga di Kelurahan Tuweley hingga deretan pertokoan dan
pusat aktivitas ekonomi di Kelurahan Baru. Setiap sudut jalan membawa tantangan
unik tersendiri yang menuntut kejelian serta kesabaran ekstra.
Tantangan
tersebut terasa makin nyata saat kami menyisir sudut-sudut menantang di
Kelurahan Nalu. Di sana, kami harus menjangkau area pemukiman warga pemulung di
sekitar TPA, kompleks perumahan dinas RRI, hingga gubuk-gubuk warga yang
berdiri terisolasi di atas gunung dan pinggiran hutan. Keragaman medan ini
menjadikan setiap langkah kaki penuh dengan kalkulasi keselamatan dan strategi
komunikasi yang pas.
Kehadiran tim
inilah yang mengubah setiap petualangan berat dan melelahkan di lapangan
menjadi rentetan cerita berharga. Kebersamaan, saling percaya, dan dukungan
tanpa henti di antara kami membuat tugas besar ini terasa lebih ringan dan
layak untuk dikenang sepanjang hayat.
Peran Komando dan Pengawal
Kualitas: PML dan Pendamping BPS
Sebagai PCL
yang berada di garis paling depan, mengetuk pintu rumah warga dan berhadapan
langsung dengan beragam karakter masyarakat adalah pekerjaan yang menguras
energi fisik maupun pikiran. Di titik-titik krusial itulah, peran Pemeriksa
Lapangan (PML) dan Pendamping ASN BPS menjadi benteng pertahanan utama kami
ketika menemui jalan buntu.
Ibu Sri
Wahyuni Syarifudin selaku PML kami adalah sosok pengawal kualitas yang luar
biasa sabar. Beliau memastikan setiap angka, kode, dan rincian usaha yang kami
kumpulkan berdiri di atas akurasi yang presisi. Namun lebih dari sekadar tugas
profesional, beliau adalah tempat saya "mengadu" saat dihinggapi
keraguan di lapangan. Jujur saja, rasa sungkan sering kali menghampiri karena
saya berulang kali mengetuk pintu rumah beliau tanpa kenal waktu. Entah itu
pagi-pagi sekali sebelum melangkah ke lokasi, siang hari di sela jam istirahat,
hingga larut malam ketika ingatan pencatatan hari itu masih segar di kepala.
Rasanya tidak enak hati karena terus-menerus menyita waktu istirahat beliau dan
keluarga.
Namun, Ibu Sri
selalu menyambut dengan wajah tenang dan pintu yang terbuka lebar. Dengan
teliti beliau membantu memecahkan kerumitan klasifikasi usaha informal pemulung
di sekitar TPA Nalu, memverifikasi ulang batas RT di pemukiman padat Kelurahan
Baru, hingga dengan sabar melayani tumpukan permintaan re-edit (reged)
dokumen yang tidak sedikit. Semua itu beliau jalani tanpa raut lelah demi satu
tujuan: memastikan kualitas data dari tim kami benar-benar sempurna.
Sementara itu,
kehadiran para pendamping dari ASN BPS Kabupaten Tolitoli, yaitu Mas Rio
Oloan dan Mbak Laila Fakarisma, menyuntikkan rasa aman dan rasa
percaya diri yang tinggi bagi kami para pendata. Di lapangan, situasi tidak
selalu mulus. Ketika tim kami tertahan oleh penolakan keras warga yang
emosional akibat salah paham isu bantuan sosial, atau saat kami harus melangkah
masuk ke pemukiman di atas gunung yang jalurnya terisolasi, Mas Rio dan Mbak
Laila sering kali turun tangan langsung mendampingi. Pendekatan kelembagaan dan
komunikasi taktis yang mereka bawakan ampuh mencairkan suasana yang tegang.
Mereka pasang badan, meyakinkan warga dengan tutur kata yang menenangkan, serta
menjelaskan dengan gamblang bahwa data yang kami kumpulkan adalah pijakan
penting bagi arah pembangunan daerah mereka sendiri.
Saling Penopang di Antara
Anggota Tim
Menyusuri
setiap sudut Baolan juga mengajarkan kami arti penting solidaritas antaranggota
tim. Di kelurahan dan RT lainnya, ada rekan-rekan seperjuangan seperti Septiyadi,
Reza, Hartina, Afifah Tri Humairah, dan Nuri Nurhasanah
yang terus bergerak pantang menyerah menyisir setiap jengkal wilayah tugas
mereka masing-masing.
Meskipun kami
disebar di blok sensus yang berbeda, kami tidak pernah benar-benar merasa
berjuang sendirian. Lewat grup koordinasi, kami saling menopang dan membagi
beban. Saat kaki melangkah ragu di jalan setapak licin menuju lereng gunung,
atau ketika adrenalin memuncak akibat mendadak dikerumuni anjing penjaga milik
warga, pesan dan panggilan dari rekan-rekan menjadi penawar cemas. Kami saling
mengingatkan untuk menjaga keselamatan, memberi petunjuk rute teraman, hingga
saling bertukar kabar cuaca saat langit Tolitoli tiba-tiba berubah dari panas
terik menjadi hujan deras yang mengguyur deras.
Saat lelah
mulai menumpuk di penghujung hari, kami berkumpul bersama Septiyadi, Reza,
Hartina, Afifah, dan Nuri di warkop langganan. Kebersamaan itu kemudian
berlanjut ke ruang kerja kelompok di kantor BPS Kabupaten Tolitoli. Di sanalah,
di antara tumpukan berkas dan aroma kopi yang membumbung, kami menumpahkan
semua "drama" dan dinamika lapangan. Kami tertawa bersama mengenang
respons warga yang polos atau unik, saling bertukar tips menghadapi responden
yang sulit ditemui, hingga duduk berdampingan mengevaluasi isian kuesioner
sebelum akhirnya kami serahkan ke meja pemeriksaan Ibu Sri Wahyuni Syarifudin.
Sinergi untuk Data yang
Berkualitas
Sensus Ekonomi
2026 pada akhirnya bukan sekadar tentang mengejar target hitungan data,
melainkan tentang bagaimana sebuah tim besar melangkah dan bernapas dalam satu
irama. Mas Rio Oloan dan Mbak Laila Fakarisma dari BPS hadir memberikan jaminan
kualitas serta pengayoman, Ibu Sri Wahyuni Syarifudin mengawal ketelitian
dengan kesabaran yang tak terbatas, sementara Septiyadi, Reza, Hartina, Afifah,
Nuri, dan saya sendiri berdiri sebagai ujung tombak yang menyerap denyut
realita di akar rumput.
Ikatan yang
tumbuh di antara kami telah melampaui sekat-sekat hubungan kerja formal. Kami
ditempa oleh terik dan debu jalanan Baolan, disatukan oleh rasa lelah yang
sama, dan dikuatkan oleh satu tekad yang bulat: mempersembahkan data Tolitoli
yang paling jujur, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dari deretan
pertokoan di pusat kota hingga gubuk-gubuk sunyi di pinggiran hutan, kami telah
membuktikan satu hal: ketika sebuah tim bergerak dengan fondasi rasa saling
percaya, komitmen tinggi, dan kepedulian yang tulus, tidak ada medan di
lapangan yang terlalu berat untuk ditaklukkan.























