Jumat, 23 Januari 2026

Reuni 15 Tahun di Hotel Alatas Antara Tonjokan Sayang dan Semangat Desa Iklim



Kadang hidup memang punya cara sendiri buat kasih kejutan. Kemarin niat saya ke Hotel Alatas Tolitoli cuma satu hadir di acara Sosialisasi Program Kampung Iklim ProKlim yang diadakan DLH Provinsi Sulteng. Tapi begitu masuk aula rencana itu buyar seketika. Mata saya tertuju pada satu sosok yang sangat saya kenal.

Beliau adalah Bapak Dr Ir Abd Rauf MS. Memori saya langsung loncat ke belasan tahun lalu ke lorong-lorong Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. Pak Rauf ini dosen pembimbing skripsi saya dulu. Beliau yang kawal langkah awal saya waktu masih jadi mahasiswa yang idealis tapi sebenarnya masih buta soal urusan lapangan.

Coba bayangkan sudah 15 tahun sejak saya lulus kuliah. Kami jalani garis hidup masing-masing dan tiba-tiba bertemu lagi di forum yang sama. Rasanya luar biasa. Sekarang kami bukan lagi duduk sebagai dosen dan mahasiswa yang sedang bimbingan tapi jadi mitra diskusi untuk memikirkan masa depan lingkungan di Sulawesi Tengah. Pertemuan ini bagi saya seperti jawaban atas perjalanan panjang yang sudah saya lalui selama ini.

Mentor Kelas Dunia yang Tetap Membumi

Buat kawan-kawan di dunia pertanian atau riset nama Pak Abd Rauf pasti sudah tidak asing. Beliau punya dedikasi yang ngeri di dunia pendidikan. Kiprahnya tidak main-main sampai ke level internasional lewat FAO Food and Agriculture Organization di bawah PBB. Rekam jejak beliau membuktikan kalau ilmu dari kampus di Sulteng itu bisa mewarnai kebijakan dunia.

Tapi buat saya Pak Rauf bukan cuma soal gelar atau jabatan di PBB. Beliau adalah dosen yang cara mendidiknya sangat kena di hati. Beliau tidak cuma ajarkan rumus atau metode penelitian yang rumit. Beliau ajarkan mental. Saya ingat betul pesannya sarjana pertanian tidak boleh cuma pintar di atas kertas tapi harus tahu betul aroma tanah dan bagaimana rasanya keringat petani di sawah.

Satu hal yang tidak akan pernah saya lupa sampai kapan pun adalah tonjokan sayang beliau. Dulu kalau bimbingan skripsi dan draf saya masih kacau atau kalau saya sudah mulai malas-malasan beliau pasti kasih tonjokan kecil di bahu. Itu cara unik beliau kasih semangat. Rasanya bukan sakit tapi seperti disetrum untuk segera balik ke depan komputer dan selesaikan revisi malam itu juga.

Tonjokan itu bukan sekadar gerakan tangan tapi transfer energi. Itu yang bikin saya kuat lewatkan malam-malam riset di Palu sampai akhirnya bisa lanjut kuliah Magister di IPB University. Tanpa bimbingan keras tapi penuh kasih sayang dari beliau mungkin saya tidak akan punya daya tahan untuk meneliti dinamika kelompok di 12 desa sekitar kampus Bogor dulu.

Dari Skripsi Pindah ke Urusan Mitigasi Iklim

Melihat Pak Rauf masih sangat aktif dan bersemangat di forum ProKlim ini benar-benar jadi tamparan positif buat saya. Beliau tunjukkan kalau ilmu itu tidak ada masa pensiunnya. Kalau sang mentor yang sudah level dunia saja masih mau turun gunung urus desa-desa di Tolitoli dan Buol rasanya malu kalau saya yang lebih muda cuma jadi penonton di pinggir lapangan.

ProKlim yang kami diskusikan di Hotel Alatas ini memang butuh orang-orang seperti beliau. Orang yang cerdas secara akademik tapi mau rendah hati saat bicara dengan masyarakat di tingkat bawah. Perpaduan ilmu agronomi yang beliau ajarkan dulu dengan ilmu penyuluhan pembangunan yang saya pelajari di IPB sekarang menemukan titik temunya. Kita tidak bisa bicara mitigasi iklim kalau tidak sentuh manusianya.

Pertemuan kemarin jadi pengingat keras buat saya. Ilmu yang saya dapat 15 tahun lalu dari beliau tidak boleh menguap begitu saja. Ada beban moral untuk teruskan api semangat beliau. ProKlim di Sulteng harus kita kawal supaya tidak jadi sekadar acara seremonial di hotel. Program ini harus bisa hidupkan kelompok tani perkuat peran ibu-ibu KWT dan bikin desa kita tangguh hadapi cuaca ekstrem.

Penutup: Terus Nyalakan Api Semangat

Sehat selalu Pak Rauf. Terima kasih untuk bimbingannya untuk tonjokan sayangnya dan untuk teladan yang Bapak kasih sampai hari ini. Bertemu Bapak di acara DLH Provinsi ini rasanya seperti dapat baterai baru. Pengabdian Bapak di FAO itu mimpi saya tapi kerja nyata Bapak buat petani lokal itu inspirasi yang paling nyata buat saya.

Perjalanan saya mungkin sudah jauh dari Palu sampai ke Bogor tapi akar ilmu saya tetap ada di Bumi Tadulako lewat bimbingan beliau. Sebagai Ketua DPC HA IPB Buol saya makin merasa punya tugas besar untuk pastikan sinergi antara guru dan murid ini berlanjut jadi aksi nyata di lapangan.

Membangun Desa Iklim itu intinya adalah membangun karakter orang-orang di dalamnya persis seperti Pak Rauf membangun karakter saya 15 tahun lalu. Mari kita tanam masa depan ini sama-sama mulai dari desa untuk Sulawesi Tengah yang lebih tangguh dan sejahtera.

Nah itu tadi sedikit cerita reuni saya di sela acara ProKlim kemarin. Bertemu Pak Rauf mengingatkan saya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari bimbingan dan kolaborasi yang kuat. Kalau teman-teman sendiri siapa sosok mentor atau dosen yang paling berkesan dan punya cara unik saat mendidik kalian dulu. Dan menurut Bapak Ibu tantangan apa yang sebenarnya paling berat dihadapi desa kita saat ini agar benar-benar tangguh terhadap perubahan iklim. Mari kita bernostalgia sekaligus berdiskusi di kolom komentar ya.

 

Rabu, 21 Januari 2026

Istriku Dilantik sebagai PPPK Paruh Waktu: Sebuah Langkah Baru dalam Pengabdian

 


Hari ini menjadi salah satu catatan sejarah yang akan selalu kami simpan dalam memori perjalanan keluarga kami. Di bawah langit Kabupaten Tolitoli, tepatnya di halaman Kantor Bupati Kabupaten Tolitoli yang khidmat, saya menyaksikan istri saya resmi mengambil sumpah dan dilantik sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu. Momen ini bukan sekadar perubahan status kepegawaian dari tenaga honorer menjadi aparatur sipil, melainkan sebuah amanah baru yang menandai fase pengabdian yang lebih matang dan terstruktur dalam hidupnya.

Sebagai suami, ada rasa haru yang sulit digambarkan saat melihatnya berdiri tegap mengenakan seragam kebanggaan di antara barisan rekan sejawatnya di tengah lapangan upacara. Ini adalah jawaban dari banyak doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, serta buah dari usaha yang tak kenal lelah di tengah kesibukan mengurus rumah tangga yang sering kali menyita waktu dan pikiran. Melihatnya melangkah maju di halaman kantor bupati untuk menerima SK pelantikan adalah pengingat nyata bagi saya bahwa setiap perjuangan yang dilakukan dengan sabar, ikhlas, dan konsisten pasti akan membuahkan hasil yang manis pada waktunya.

Momen ini juga terasa begitu spesial karena menjadi titik balik setelah sekian lama ia mendedikasikan diri dalam ketidakpastian status. Ada pancaran kebahagiaan yang berbeda di wajahnya hari ini, sebuah binar mata yang menceritakan tentang harapan baru untuk masa depan keluarga kami dan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat. Pelantikan ini bagi kami adalah simbol dari sebuah kehormatan yang diberikan negara atas dedikasi yang telah ia tanamkan selama bertahun-tahun di bidang kesehatan, khususnya bagi warga di bumi cengkeh, Tolitoli..

Sebuah Proses yang Tidak Sekadar Formalitas

Pelantikan PPPK ini bukanlah sebuah seremoni yang datang begitu saja dari langit. Di balik senyum syukur hari ini, ada deretan panjang perjuangan yang menguji batas kesabaran, komitmen, dan kesiapan mental kami sekeluarga. Kami masih ingat betul bagaimana hiruk-pikuk persiapan administrasi, ketegangan saat memantau seleksi berkas, hingga momen-momen menunggu pengumuman yang menguras energi emosional di tengah ketidakpastian regulasi yang dinamis. Setiap tahapan seleksi adalah ujian daya tahan, di mana harapan dan kecemasan sering kali datang silih berganti.

Proses ini adalah guru yang mengajarkan kami tentang arti ketenangan dan keyakinan bahwa hasil terbaik akan selalu datang tepat pada waktunya. Hadirnya formasi PPPK paruh waktu ini memberikan ruang yang sangat berarti, terutama bagi mereka yang ingin tetap mengabdi secara profesional namun tetap memiliki ruang untuk menyeimbangkan peran di dalam keluarga. Inilah yang membuat formasi ini begitu istimewa, sebuah keadilan bagi para abdi negara yang juga merupakan pilar utama di rumah mereka masing-masing, sehingga tugas negara dan tugas rumah tangga tidak perlu ada yang dikorbankan.

Lebih jauh lagi, skema paruh waktu ini merupakan bentuk pengakuan negara atas dedikasi mereka yang telah lama mengabdi namun terkendala oleh keterbatasan formasi penuh waktu. Ini adalah jalan tengah yang bijak, memberikan kepastian hukum dan kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan masa-masa sebelumnya. Bagi kami, ini bukan sekadar tentang angka di atas kertas gaji, melainkan tentang ketenangan jiwa dalam bekerja dan pengakuan atas eksistensi profesi yang selama ini dijalani dengan penuh keterbatasan.

Makna Pengabdian di Koridor RSUD Mokopido

Menjadi seorang Bidan di RSUD Mokopido Kabupaten Tolitoli memiliki dinamika tersendiri yang tidak semua orang pahami. Rumah sakit ini bukan sekadar tempat kerja bagi istri saya, melainkan saksi bisu betapa kerasnya perjuangan tenaga kesehatan di garda terdepan pelayanan publik di daerah. Melayani ibu hamil, membantu proses persalinan yang terkadang penuh risiko, hingga memastikan bayi lahir dengan selamat adalah tugas-tugas yang menuntut kesiagaan penuh, baik fisik maupun empati yang mendalam di setiap detik penugasan.

Setiap lorong di RSUD Mokopido menyimpan cerita tentang perjuangan antara hidup dan mati, dan di sanalah istri saya mengambil peran. Status PPPK paruh waktu ini tidak sedikit pun mengurangi bobot tanggung jawab tersebut. Profesionalisme baginya bukan tentang berapa jam ia berada di bangsal rumah sakit, melainkan tentang kualitas sentuhan dan perawatan yang ia berikan kepada masyarakat Tolitoli. Ada tanggung jawab moral yang melekat pada setiap tindakan medis, ada masyarakat yang menaruh harapan besar pada pundaknya, dan ada niat baik yang kini memiliki wadah legal yang lebih terstruktur.

Kami percaya bahwa pengabdian tidak harus selalu bersifat full-time untuk menjadi berdampak. Yang utama adalah kemanfaatan yang dirasakan oleh sesama. Di tengah keterbatasan tenaga medis yang sering terjadi di daerah, kontribusi sekecil apa pun dari seorang bidan yang bekerja dengan hati akan sangat berarti bagi keberlangsungan hidup generasi masa depan Tolitoli. Bekerja paruh waktu justru memberinya kesempatan untuk tetap memberikan performa terbaik tanpa harus kehilangan momen berharga dalam mengasuh anak-anak di rumah.

Makna Profesionalisme dalam Profesi Kesehatan

Dalam kacamata kami, profesionalisme bukan hanya tentang status pekerjaan atau seragam yang dikenakan, tetapi tentang nilai-nilai kemanusiaan yang dibawa saat menjalankan tugas. Menjadi bagian dari tenaga pelayanan kesehatan melalui skema PPPK memiliki arti tersendiri bagi seorang bidan. Ada etika profesi yang harus dijunjung tinggi dan ada standar pelayanan yang harus dipenuhi demi keselamatan pasien. Istri saya menyadari bahwa setiap diagnosa dan tindakan yang diambil adalah pertanggungjawaban dunia dan akhirat.

Mengabdi dalam porsi paruh waktu justru memberikan kesempatan bagi istri saya untuk tetap segar secara mental saat turun ke lapangan. Dengan waktu yang lebih fleksibel, ia dapat mengelola energi dengan lebih baik, sehingga setiap pasien yang ia tangani di RSUD Mokopido mendapatkan perhatian yang optimal. Inilah esensi dari pelayanan publik yang sesungguhnya: memberikan yang terbaik dengan sumber daya yang ada untuk kemaslahatan orang banyak, tanpa mengabaikan kesehatan mental dan keseimbangan hidup pribadi sang pemberi layanan.

Lebih dari itu, status ini juga memotivasi dirinya untuk terus meningkatkan kompetensi. Dunia kebidanan terus berkembang, dan menjadi bagian dari ASN (Aparatur Sipil Negara) menuntutnya untuk terus memperbarui ilmu pengetahuan demi pelayanan yang lebih aman dan modern. Profesionalisme adalah perjalanan belajar yang tiada henti, dan pelantikan hari ini adalah pintu masuk menuju level kompetensi yang lebih tinggi lagi.

Doa dan Harapan di Balik Seragam Baru

Bagi kami, merayakan hari pelantikan ini tidak harus dengan kemewahan yang berlebihan. Rasa syukur kami tumpahkan dalam doa-doa sederhana namun mendalam yang dipanjatkan bersama keluarga kecil kami di rumah. Kami sangat bersyukur karena amanah ini datang di waktu yang tepat, saat kami juga sedang belajar untuk terus bertumbuh dan mandiri. Amanah ini bukan hanya membuka pintu rezeki yang baru, tetapi juga menyuntikkan energi positif bagi kami untuk terus memberikan yang terbaik bagi lingkungan sekitar.

Harapan saya sebagai suami untuk langkahnya ke depan sangatlah sederhana namun prinsipil:

  1. Semoga setiap tugas yang ia jalankan di RSUD Mokopido selalu berlandaskan ketulusan hati, menjadikannya bidan yang tidak hanya terampil secara teknis tapi juga lembut dalam pelayanan.
  2. Semoga setiap lelahnya saat menolong persalinan atau merawat pasien di jam-jam yang melelahkan menjadi keberkahan yang mengalir bagi keluarga dan masyarakat luas.
  3. Semoga Allah mempermudah segala tanggung jawabnya, menjauhkannya dari segala marabahaya saat bertugas, dan menjadikan setiap peluhnya bernilai ibadah yang diterima.

Dalam dunia kesehatan, setiap detik pelayanan adalah bentuk nyata dari panggilan kemanusiaan yang luhur. Maka, setiap tugas yang dijalankan bukan lagi sekadar soal pekerjaan demi materi, melainkan tentang menjawab panggilan Tuhan untuk menolong sesama makhluk-Nya. Pekerjaan ini adalah jembatan kebaikan yang kami harap dapat menuntun keluarga kami menuju keberkahan hidup yang hakiki.

Penutup: Awal dari Perjalanan Panjang

Pelantikan hari ini di halaman Kantor Bupati Kabupaten Tolitoli bukanlah garis finis atau akhir dari sebuah perjuangan panjang yang melelahkan. Sebaliknya, ini adalah garis start dari sebuah perjalanan baru yang jauh lebih menantang dan penuh warna. Tugas-tugas yang telah menanti di RSUD Mokopido akan menjadi ladang pengabdian yang luas sekaligus ruang bagi istri saya untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan mendewasakan diri dalam profesinya sebagai bidan yang berdedikasi tinggi.

Kami menyadari bahwa ke depan mungkin akan ada tantangan baru, kelelahan baru, dan dinamika pekerjaan yang lebih kompleks seiring dengan perkembangan regulasi kesehatan. Namun, dengan status baru sebagai PPPK paruh waktu, kami melangkah dengan pondasi yang lebih kuat dan hati yang lebih tenang. Kami percaya bahwa amanah yang datang tidak pernah salah alamat, dan setiap langkah yang diniatkan untuk kebaikan pasti akan menemui jalannya sendiri melalui pertolongan-Nya.

Alhamdulillah, hari ini benar-benar menjadi hari yang baik untuk kami semua. Semoga langkah-langkah setelah ini juga selalu dipenuhi dengan kebaikan, kemudahan, dan keberkahan yang sama. Selamat bertugas untuk istriku tercinta, selamat mengabdi untuk tanah Tolitoli melalui RSUD Mokopido. Teruslah menjadi cahaya bagi ibu dan bayi yang membutuhkan tangan dinginmu.

 

Minggu, 04 Januari 2026

Pulang ke Diri Sendiri Sebuah Proklamasi Kemerdekaan Jiwa

 

Catatan Penulis: Tulisan ini adalah ruang jujur bagi saya untuk mencatat sebuah perjalanan pulang menuju diri sendiri. Tidak ada sedikit pun niat untuk mengecilkan ketulusan atau menyalahkan pihak mana pun yang pernah hadir dalam sejarah hidup saya. Sebaliknya, saya memandang setiap sosok di masa lalu sebagai guru-guru terbaik yang diutus Tuhan untuk membentuk saya hari ini. Ini adalah tentang cara saya bertumbuh, bukan tentang menghakimi masa lalu.

 

Perjalanan Pulang yang Sunyi

Belakangan ini, saya sering memilih diam. Bukan diam karena kelelahan, melainkan diam yang disengaja, sebuah keheningan yang saya rawat dengan sadar. Dalam sunyi itulah saya mulai berani mendengar suara yang selama ini tertimbun oleh kebisingan dunia, yaitu suara diri sendiri. Suara yang tidak pernah berteriak, tetapi setia menunggu untuk diakui.

Menoleh ke belakang kini tidak lagi menghadirkan sesak di dada. Tidak ada dorongan untuk membela diri, apalagi menyalahkan keadaan. Saya mulai memahami bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mengejar kita; kitalah yang sering terus berlari darinya. Ketika keberanian untuk berhenti akhirnya hadir, saya justru menemukan bahwa yang menunggu di belakang bukan ancaman, melainkan pemahaman.

Saya sampai pada satu kesadaran mendasar bahwa hidup bukanlah tentang menumpuk pencapaian, melainkan tentang keberanian menanggalkan lapisan-lapisan palsu yang kita kenakan demi diterima. Perjalanan pulang adalah proses melepaskan, bukan menambah. Ia tidak ramai, tidak heroik, dan sering kali tidak dipahami orang lain. Namun, justru di situlah letak kemurniannya.

Menerima seluruh sejarah hidup tanpa syarat adalah bentuk kedewasaan tertinggi yang pernah saya rasakan. Tidak ada satu pun fragmen masa lalu yang ingin saya hapus, bahkan yang paling getir. Luka-luka yang dulu ingin saya sembunyikan kini saya pandang sebagai penanda jalan. Tanpa semuanya itu, saya mungkin tidak pernah belajar membedakan mana yang sekadar ambisi dan mana yang benar-benar panggilan jiwa.

Saya akhirnya memahami bahwa Tuhan tidak pernah ceroboh dalam menyusun skenario hidup. Kegagalan yang terasa memalukan, kehilangan yang menyisakan kehampaan, dan jalan buntu yang memaksa saya berhenti, semuanya adalah ruang pendidikan batin. Kerumitan itu hadir bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk melunakkan.

Kini saya memandang masa lalu sebagai fondasi yang kokoh. Luka-luka itu tidak lagi saya anggap cacat, melainkan tanda bahwa saya pernah hidup, pernah berjuang, dan pernah belajar. Dari sanalah jiwa bertumbuh, bukan menjadi keras, melainkan menjadi jujur.

Berdamai dengan Dinamika Masa Lalu

Kemerdekaan jiwa tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari keberanian menatap diri apa adanya, tanpa topeng dan tanpa pembenaran. Kejujuran ini tidak selalu nyaman. Ada rasa pahit yang harus ditelan ketika saya menyadari bahwa sebagian ketakutan saya selama ini bukan disebabkan oleh keadaan sekarang, melainkan oleh luka lama yang belum selesai.

Saya mengakui bahwa pernah ada fase ketika rasa aman semu saya anggap sebagai cinta. Perhatian yang berlebihan dulu terasa menenangkan, padahal di dalamnya terselip ketergantungan yang tidak sehat. Saya tumbuh dengan keyakinan bahwa keselamatan hanya bisa diraih jika ada figur yang terus mengawasi dan melindungi.

Seiring waktu, saya belajar bahwa kasih sayang sejati justru memberi ruang. Cinta yang matang tidak mencengkeram, tidak mengatur napas orang lain, dan tidak menjadikan rasa takut sebagai alat pengikat. Ia mempercayai proses, bahkan ketika proses itu tampak rapuh.

Saya menyadari bahwa selama bertahun-tahun saya membawa kecemasan yang bukan milik masa kini. Itu hanyalah gema dari masa kecil, sebuah upaya terus-menerus untuk merasa layak dan diakui. Tanpa sadar, saya menggantungkan harga diri pada penilaian orang lain, seolah kebahagiaan harus selalu mendapatkan stempel persetujuan.

Pengakuan ini tidak saya buat untuk meratapi nasib atau membuka kembali luka lama. Ini adalah upaya sadar untuk menghentikan siklus. Saya tidak ingin mewariskan kegelisahan yang sama kepada anak-anak saya. Saya ingin mereka tumbuh dengan keberanian menjadi diri sendiri, bukan sebagai replika dari harapan orang lain.

Berdiri Tegak di Atas Kaki Sendiri

Hari ini saya memilih berdiri sebagai pria dewasa, suami, dan ayah dengan tanggung jawab penuh atas dunia batin saya sendiri. Saya berhenti mencari pengganti luka lama dalam relasi apa pun, baik dalam pernikahan, persahabatan, maupun dunia profesional. Tidak adil menuntut orang lain menyembuhkan sesuatu yang bahkan belum saya pahami sepenuhnya.

Saya belajar bahwa mencintai dengan sehat hanya mungkin dilakukan ketika saya tidak lagi menagih. Memberi tanpa tuntutan hanya bisa lahir dari jiwa yang tidak lagi merasa kekurangan. Melepaskan ekspektasi tersembunyi justru membuat relasi menjadi lebih jujur dan lapang.

Kemandirian emosional juga berarti berani melepaskan ketergantungan pada figur patron. Saya tidak lagi menggantungkan harga diri pada kedekatan dengan tokoh tertentu atau pada pengaruh struktural. Prinsip harus berdiri di atas kebenaran, bukan pada rasa sungkan atau balas budi yang membungkam suara hati.

Saya sampai pada kesimpulan yang tegas bahwa tidak ada karier, jabatan, atau pengakuan yang layak dibayar dengan rusaknya ketenangan jiwa dan keharmonisan keluarga. Integritas batin bukan sekadar nilai moral, melainkan kebutuhan eksistensial. Tanpanya, semua pencapaian hanya akan terasa kosong.

Bergerak dalam Ritme Ketenangan

Hidup saya kini tidak lagi digerakkan oleh rasa takut. Saya menyadari bahwa rasa takut adalah mesin yang boros energi dan miskin makna. Ia mendorong kita bergerak cepat, tetapi sering kali menjauh dari arah yang benar.

Jika kini saya menolong atau memberi, itu bukan karena rasa terancam atau takut kehilangan relasi. Saya ingin setiap kebaikan lahir dari kebebasan, bukan dari tekanan emosional. Dengan cara itu, memberi tidak lagi menguras, melainkan menguatkan.

Saya berhenti menjadikan hidup sebagai arena perlombaan. Setiap orang memiliki lintasan dan waktu masing-masing. Keyakinan bahwa rezeki tidak akan tertukar membuat saya bisa melangkah tanpa iri dan tanpa tergesa.

Dalam ketenangan, saya belajar mendengar. Keputusan besar tidak lagi saya ambil dalam kondisi batin yang gaduh. Saya percaya bahwa sesuatu yang benar tidak perlu dikejar dengan panik. Jika sebuah pencapaian menuntut pengorbanan jiwa yang terlalu mahal, maka ia layak untuk ditinggalkan.

Menumbuhkan Tanpa Harus Menguasai

Orientasi hidup saya kini berubah secara mendasar. Fokus saya bukan lagi ingin menjadi siapa, melainkan bagaimana kehadiran saya membawa manfaat. Sebagai pendidik dan pendamping, saya sadar bahwa peran saya bukan membentuk orang lain sesuai bayangan saya, melainkan menemani mereka menemukan jalannya sendiri.

Saya ingin membangun relasi yang memberdayakan, bukan menciptakan ketergantungan. Kasih sayang yang tidak memiliki batasan justru mudah berubah menjadi kontrol. Saya belajar membedakan antara mendampingi dan menguasai.

Keberhasilan tertinggi bukan ketika orang lain terus membutuhkan saya, melainkan ketika mereka mampu berdiri tegak dengan kesadaran penuh. Saat itulah saya tahu bahwa cinta telah bekerja dengan benar.

Rezeki dan Kedaulatan Jiwa yang Utuh

Saya semakin yakin bahwa rezeki yang berkah selalu berjalan seiring dengan ketenangan batin. Ambisi yang memaksa hanya akan melahirkan kelelahan yang tidak perlu. Karya yang hidup lahir dari jiwa yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri.

Saya tidak lagi menggantungkan nasib pada jaringan, faksi, atau figur besar. Allah menolong bukan karena siapa yang saya dekati, melainkan karena kejujuran dan ketulusan dalam menjalani amanah. Dari sanalah kedaulatan jiwa tumbuh.

Bekerja dari ruang yang penuh membuat saya tidak mudah goyah oleh perbandingan sosial. Saya berkarya karena cinta, bukan karena ingin menambal harga diri. Dari situ, hidup terasa lebih ringan dan lebih jernih.

Pertanyaan Terakhir sebagai Filter Jiwa

Kini hidup saya bukan lagi panggung pembuktian. Tepuk tangan tidak lagi menjadi tujuan. Setiap keputusan besar saya hadapkan pada satu pertanyaan penentu:

“Apakah langkah ini menenangkan jiwa, menguatkan keluarga, dan bermakna di hadapan Tuhan?”

Jika jawabannya tidak, saya berhak berkata tidak tanpa rasa bersalah dan tanpa ketakutan akan kehilangan. Saya lebih memilih kehilangan kesempatan di mata dunia daripada kehilangan keutuhan diri.

Di penghujung perjalanan nanti, saya hanya menginginkan satu hal, yaitu pulang dengan jiwa yang tenang, nafsul mutmainnah. Menjadi utuh adalah tugas suci saya, dan saya memilih setia pada jalan kemerdekaan ini hingga akhir hayat.

Jumat, 26 Desember 2025

Himpunan Alumni IPB Sulawesi Tengah Hadiri Munas Alumni IPB Tahun 2025: Meneguhkan Jejaring, Menguatkan Kiprah


Lanskap Kampus IPB Dramaga kembali menjadi saksi bisu berkumpulnya ribuan pemikiran hebat dalam perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) Alumni IPB Tahun 2025. Pertemuan akbar ini bukan sekadar agenda rutin organisasi setiap beberapa tahun sekali, melainkan sebuah ruang refleksi untuk memperkuat struktur kepengurusan sekaligus menyegarkan kembali visi kolektif di tengah perubahan zaman yang kian cepat. Bagi kami, Munas adalah titik temu di mana semangat almamater dipadukan dengan strategi nyata untuk memperluas kontribusi alumni bagi kedaulatan bangsa.

Lebih dari sekadar sidang formal, Munas kali ini membawa beban moral yang cukup besar. Di tengah tantangan krisis pangan global dan perubahan iklim, alumni IPB dituntut untuk melampaui sekat-sekat profesi demi melahirkan solusi yang aplikatif. Atmosfer diskusi di setiap sudut kampus, mulai dari koridor hingga ruang sidang, menunjukkan energi luar biasa bahwa alumni bukan hanya aset masa lalu, melainkan penggerak masa depan yang siap bertransformasi demi kemajuan sektor agromaritim Indonesia.

Dalam kesempatan yang sangat berharga ini, Himpunan Alumni IPB Sulawesi Tengah (HA-IPB Sulteng) hadir sebagai representasi penting dari wilayah timur Indonesia. Kehadiran delegasi kami di Bogor bukan hanya untuk mengisi kursi undangan, melainkan membawa amanah dan harapan dari para pejuang pertanian di Bumi Tadulako. Kami datang untuk menegaskan bahwa jarak ribuan kilometer dari ibu kota bukanlah penghalang bagi kami untuk tetap bersinergi, menjaga martabat almamater, dan mengambil peran sentral dalam pembangunan di daerah.

Partisipasi Aktif Alumni Sulawesi Tengah

​Selama beberapa hari di Bogor, delegasi HA-IPB Sulteng terlibat penuh dalam dinamika Munas, mulai dari jalannya sidang pleno yang menentukan arah organisasi hingga sesi diskusi strategis di tingkat komisi. Partisipasi ini tidak berhenti pada urusan prosedural semata, melainkan merambah ke forum-forum jejaring yang lebih cair, di mana alumni lintas angkatan dan lintas fakultas saling bertukar gagasan tanpa sekat senioritas yang kaku.

Ruang-ruang diskusi ini menjadi wadah bagi kami untuk membedah berbagai isu strategis, seperti:

·        Redesain kebijakan organisasi alumni nasional agar lebih responsif terhadap kebutuhan anggota di daerah.

·          Pembangunan ekosistem kerja sama antar-wilayah yang lebih solid dan saling menguntungkan.

·      Akselerasi kontribusi alumni dalam inovasi sektor pertanian, perikanan, dan kelestarian lingkungan hidup.

·          Peningkatan peran strategis alumni sebagai think-tank dalam pengambilan kebijakan pembangunan di tingkat daerah maupun nasional.

​Kehadiran kami juga berfungsi sebagai jembatan informasi untuk menyuarakan potensi sekaligus tantangan unik yang dihadapi Sulawesi Tengah. Dengan berinteraksi langsung bersama para pengurus pusat dan pakar dari daerah lain, kami berupaya memastikan bahwa arus pengetahuan dan dukungan kebijakan tidak lagi hanya berpusat di Pulau Jawa. Semangat kekeluargaan yang begitu kental selama Munas membuktikan bahwa ikatan batin sebagai insan IPB tetap menyala kuat, meski sehari-hari kami mengabdi jauh di pelosok nusantara.

Menguatkan Peran Alumni di Daerah

Alumni IPB di Sulawesi Tengah telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi pembangunan daerah. Kami bergerak di berbagai lini, mulai dari penguatan sektor pertanian rakyat, modernisasi perikanan, perlindungan lingkungan, hingga upaya pemberdayaan masyarakat desa. Lewat Munas ini, kami ingin memastikan bahwa gerakan yang kami bangun di daerah memiliki landasan yang selaras dengan gerakan nasional, sehingga dampaknya bisa lebih masif dan terukur.

​Beberapa agenda prioritas yang secara konsisten diusung oleh delegasi Sulteng dalam ajang ini meliputi:

·                 ​Membangun kolaborasi program lintas regional yang mampu menjawab persoalan lokal secara kolektif.

·                 Menginisiasi dukungan nasional bagi kegiatan pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kapasitas SDM di Sulawesi Tengah.

·                 Membuka peluang kerja sama strategis dalam bidang riset terapan dan inovasi teknologi yang ramah lahan.

·                 Memperkuat jalur komunikasi alumni antar-fakultas guna membangun tim multidisiplin yang lebih tangguh di daerah.

​Kami sangat menyadari bahwa kekayaan sumber daya alam Sulawesi Tengah masih memerlukan sentuhan inovasi yang tepat sasaran agar tidak terjebak pada eksploitasi semata. Melalui jejaring yang terbentuk di Munas, kami berupaya menarik minat rekan-rekan alumni dari berbagai latar belakang untuk melirik potensi di Sulteng. Kami ingin setiap ilmu yang kami bawa pulang dari Dramaga bisa diterjemahkan menjadi kesejahteraan nyata bagi para petani dan nelayan yang selama ini menjadi mitra perjuangan kami di Bumi Tadulako.

Menyambung Rindu: Kembali ke Kampus sebagai Alumni

​Munas 2025 juga menjadi sebuah perjalanan batin dan nostalgia yang luar biasa emosional bagi delegasi Sulteng. Menginjakkan kaki kembali di Kampus Dramaga seolah memutar balik jarum jam, membawa ingatan kami pada riuhnya ruang kelas, dinamika organisasi mahasiswa, hingga keteduhan spiritual yang selalu ditawarkan oleh Masjid Al Hurriyah. Setiap sudut kampus seakan bercerita tentang perjuangan masa muda yang penuh dengan idealisme.

Bagi saya pribadi, momen yang paling membahagiakan adalah saat takdir mempertemukan kembali saya dengan sahabat-sahabat karib. Senang sekali rasanya bisa berjabat tangan dan berangkulan lagi dengan Yeldi S. Adel, Jhefri Marshuda, Suardi Laheng, Roni Hermawan, Hasrudin Usman, dan Marna. Kami bukan sekadar teman kuliah saat menempuh S2 di IPB, melainkan tim solid yang pernah bersama-sama membesarkan Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Sulawesi Tengah. Ingatan saya langsung melayang pada masa-masa kami sibuk mengelola diskusi rutin, seminar nasional, hingga keringat dan tawa saat menyukseskan event nasional Pakanasika.

Bahkan, memori yang tak kalah hangat adalah kebersamaan di dapur perantauan. Kami sering memasak dan menyantap menu khas Sulawesi Tengah untuk mengobati kerinduan pada kampung halaman; mulai dari gurihnya uta dada, segarnya uta kelor, coto, borongko, pisang ijo, binte, hingga tinutuan. Tak ketinggalan, pertemuan dengan Zulfikar Mulieng, teman sekelas saya di program studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan asal Aceh Utara, menambah lengkap suasana reuni ini. Cerita-cerita seru dari masa kuliah antara tahun 2014–2017 seolah baru terjadi kemarin sore. Pertemuan ini benar-benar menjadi "pulang" dalam arti yang sesungguhnya kembali ke akar yang membentuk cara berpikir dan karakter kami hari ini.

Harapan dan Komitmen ke Depan

​Melalui semangat yang dihimpun dari Munas Alumni IPB Tahun 2025, HA-IPB Sulawesi Tengah kembali mempertegas komitmen pengabdiannya. Kami pulang tidak hanya membawa setumpuk hasil keputusan sidang, tetapi membawa api semangat baru untuk terus bergerak di daerah. Kami bertekad agar wadah alumni ini menjadi rumah yang inklusif, tempat setiap alumni Sulteng bisa saling mendukung dan berkolaborasi.

​Beberapa langkah konkret yang menjadi fokus kami ke depan antara lain:

·                 Menjadikan wadah alumni daerah sebagai pusat inkubasi ide-ide segar bagi pembangunan lokal.

·                 Mengintensifkan kegiatan sosial dan edukatif yang berdampak langsung pada masyarakat akar rumput.

·                 Mendorong terciptanya kerja sama strategis antara pemerintah daerah dengan jaringan profesional alumni.

·                 Memberikan kontribusi nyata bagi almamater melalui prestasi dan kiprah nyata di berbagai bidang profesi.

​Kami meyakini bahwa tantangan di Sulawesi Tengah memerlukan sinergi kolektif. Dengan membawa nilai-nilai integritas yang telah diajarkan di IPB, kami siap menjadi motor penggerak perubahan. Semangat "IPB untuk Indonesia" bukan sekadar slogan di spanduk Munas, melainkan janji yang akan terus kami rawat dalam setiap langkah pengabdian di Bumi Tadulako.

Penutup

​Kehadiran Himpunan Alumni IPB Sulawesi Tengah dalam Munas 2025 ini adalah bukti nyata dari sebuah komitmen yang tak lekang oleh waktu. Ini bukan sekadar seremonial organisasi, melainkan wujud rasa cinta dan tanggung jawab kami terhadap masa depan almamater dan kontribusinya bagi masyarakat luas. Di sini, segala perbedaan latar belakang dan usia lebur dalam satu identitas besar: insan IPB yang terpanggil untuk memberi manfaat.

Munas telah menjadi panggung besar bagi kita untuk memperkuat jejaring, meluaskan cakrawala gagasan, dan memperdalam rasa memiliki terhadap rumah besar IPB. Kebersamaan yang terjalin selama di Bogor akan menjadi bahan bakar bagi kami untuk terus berinovasi dan menebar manfaat sekembalinya ke Sulawesi Tengah. Kami pulang dengan keyakinan bahwa sinergi yang kuat adalah kunci untuk menghadapi ketidakpastian masa depan.

Pada akhirnya, IPB akan selalu menjadi tempat kembali. Sebuah rumah di mana rindu bermuara, semangat diperbarui, dan cita-cita untuk melayani sesama akan selalu mendapatkan ruang untuk tumbuh dengan subur. Sampai jumpa di karya-karya selanjutnya, demi kemajuan daerah dan bangsa yang kita cintai.

 


Kamis, 25 Desember 2025

Kembali ke IPB: Jejak Perjalanan, Rasa Syukur, dan Harapan Baru


Ada perjalanan yang tampak sederhana saat dijalani, namun ketika waktu mengajak kita menoleh ke belakang, barulah terlihat bahwa setiap langkah sebenarnya sedang dirangkai dengan rapi oleh takdir. Sering kali, kita tidak menyadari bahwa sebuah kunjungan singkat, pertemuan kecil, atau pengalaman sementara, kelak menjadi bab penting dalam hidup. Begitulah hubungan saya dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) tempat yang menyimpan banyak cerita, pembelajaran, dan perubahan diri.

Sejujurnya, saya tidak pernah menyangka bahwa kampus ini akan menjadi bagian besar dari identitas saya. Dulu, IPB bagi saya hanyalah sebuah nama besar di bidang pertanian, namun seiring berjalannya waktu, ia bertransformasi menjadi rumah kedua. Setiap kali saya kembali ke kampus ini, ada rasa hangat yang muncul begitu saja. Seolah-olah tempat ini bukan sekadar ruang akademik, tetapi bagian dari perjalanan spiritual, intelektual, sekaligus emosional yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih matang.

Bermula dari Benih yang Tertanam Diam-Diam

​Sekitar satu tahun sebelum resmi menjadi mahasiswa S2 di IPB, saya sempat datang ke kampus ini hanya untuk mengikuti pelatihan Tanaman Obat Keluarga. Tujuannya sederhana saja: belajar hal baru. Saat itu, sama sekali tidak ada bayangan bahwa suatu saat saya akan menghabiskan tiga tahun perjalanan akademik di sini. Saya hanya datang sebagai orang asing yang ingin menyerap ilmu praktis tentang tanaman herbal.

Namun, pelatihan singkat itulah yang justru menjadi pintu awal yang tidak saya sadari. Selama pelatihan, saya tidak hanya sibuk mencatat materi, tapi juga terpikat oleh ritme kehidupan di sini. Saya melihat bagaimana para praktisi dan dosen berinteraksi dengan penuh dedikasi, seolah setiap jengkal tanah di kampus ini memiliki nilai ilmu.

Saya masih ingat atmosfer ilmiah yang begitu hidup di setiap sudut kampus, serta ketenangan dari pepohonan rindang khas IPB yang sejuk di mata. Waktu itu saya belum paham maknanya, tapi ada perasaan familiar yang muncul seolah kampus ini sedang menyapa dan menanamkan benih untuk perjalanan panjang yang akan datang. Perasaan "pulang" itu sudah ada sejak kunjungan pertama tersebut, meski saya belum tahu kapan saya akan benar-benar kembali.

Tahun-Tahun yang Mengubah Cara Pandang

​Tak lama setelah kunjungan itu, pintu besar benar-benar terbuka. Saya diterima sebagai mahasiswa S2 di Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan, dan mulai berkuliah dari tahun 2014 hingga lulus di 2017. Tiga tahun itu bukan sekadar masa belajar mengejar gelar, tapi benar-benar masa pembentukan diri yang fundamental.

Saya "tenggelam" dalam dunia akademik yang menantang namun sangat menyenangkan. Mulai dari membedah teori pembangunan, komunikasi, hingga dinamika sosial di tingkat desa. Banyak diskusi di kelas yang membuka cara pandang saya terhadap masyarakat dan bagaimana sebuah ilmu bisa diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan. Saya belajar bahwa pembangunan bukan hanya soal angka statistik, tapi soal bagaimana manusia di dalamnya berdaya dan bergerak maju.

Lebih dari sekadar materi kuliah, saya juga belajar tentang ketangguhan mental. Menghadapi tugas-tugas yang menumpuk, mengejar narasumber penelitian ke lapangan, hingga merumuskan tesis yang layak uji, semuanya adalah ujian kesabaran. Di IPB, saya diajarkan untuk tidak mudah puas dengan jawaban yang dangkal, melainkan selalu mencari akar masalah dengan pendekatan yang logis namun tetap humanis.

Ruang Tumbuh di Forum Mahasiswa Pascasarjana

​Di sela kesibukan kuliah, saya memutuskan untuk aktif di Forum Mahasiswa Pascasarjana IPB. Wadah inilah yang mempertemukan saya dengan teman-teman dari berbagai fakultas dan disiplin ilmu yang berbeda. Dari sini saya belajar banyak hal di luar bangku kelas: yaitu kepemimpinan, kerja kolaboratif, hingga cara membangun jejaring di tingkat yang lebih luas.

Setiap rapat dan kegiatan kampus menjadi proses pendewasaan karakter. Kami sering terlibat dalam diskusi lintas disiplin yang sangat kaya; seorang ahli sosial berbicara dengan ahli agronomi, atau ahli ekonomi berdiskusi dengan ahli lingkungan. Perbedaan sudut pandang ini justru menyatukan kami dalam visi yang lebih besar tentang bagaimana membawa perubahan bagi masyarakat.

Bahkan, banyak sahabat dan relasi profesional yang saya miliki hari ini bermula dari obrolan-obrolan di koridor forum tersebut. Kami tidak hanya berbagi beban soal tugas kuliah, tetapi juga berbagi mimpi dan strategi masa depan. Kebersamaan di forum ini menyadarkan saya bahwa intelektualitas akan jauh lebih bermakna jika disatukan dengan kemampuan berorganisasi dan empati sosial yang kuat.

Teduhnya Rabu Pagi di Masjid Al Hurriyah IPB

Ada satu rutinitas yang selalu punya tempat khusus di hati saya yaitu mengikuti pengajian setiap hari Rabu pagi di Masjid Al Hurriyah. Di tengah padatnya jadwal kuliah dan dinamika organisasi yang menguras energi, Al Hurriyah menjadi tempat saya "pulang" sejenak sebelum memulai hiruk-pikuk hari. Suasana pagi yang tenang di masjid ini memberikan kekuatan tersendiri untuk menghadapi tumpukan tugas.

Setiap pekan, saya duduk bersama jamaah lain di bawah kubah masjid yang ikonik itu, menyerap tausiyah yang menyejukkan tentang sabar, syukur, dan istiqamah. Sinar matahari pagi yang masuk di sela-sela arsitektur masjid, ditambah udara Dramaga yang masih segar, seolah mencuci semua rasa lelah dan stres akademik. Di sana, status sebagai mahasiswa pascasarjana sejenak dilepaskan, dan saya kembali menjadi hamba yang butuh bimbingan sebelum bergelut dengan teori dan jurnal.

Di sanalah saya belajar menyeimbangkan ambisi duniawi dengan ketenangan ruhani. Bagi saya, Al Hurriyah di Rabu pagi bukan sekadar rutinitas, tapi sebuah "asupan jiwa" yang membantu saya melewati masa studi dengan hati yang jauh lebih tenang. Pengalaman batin ini mengajarkan saya bahwa setinggi apa pun ilmu yang kita kejar, tanpa landasan spiritual yang kuat, ilmu itu akan kehilangan keberkahannya.

Kembali untuk Munas Alumni IPB

​Tahun demi tahun berlalu, dan kini langkah kaki membawa saya kembali ke IPB. Kali ini hadirnya bukan sebagai mahasiswa yang terburu-buru mengejar jadwal kelas, melainkan sebagai bagian dari kegiatan Munas Forum Alumni IPB. Rasanya sangat berbeda, ada haru sekaligus kebanggaan yang menyeruak saat melihat wajah-wajah lama yang kini sudah berkiprah di berbagai bidang.

Ada kedewasaan yang tumbuh, tapi kenangan lama mendadak hidup kembali dengan begitu nyata. Saya melihat kampus ini sudah banyak berubah, gedung-gedung semakin megah, fasilitasnya semakin lengkap, namun "ruh" keilmuannya tetap sama. Kehadiran saya di Munas ini menjadi ajakan untuk menoleh sejenak pada akar saya, pada tempat yang dulu memberi saya ruang untuk tumbuh dan berekspresi.

Saat berjalan melewati gedung-gedung tempat dulu belajar, lorong-lorong yang dulu penuh diskusi, hingga jalan setapak menuju Al Hurriyah, semuanya terasa seperti menyapa. Saya seperti melihat kembali versi diri saya yang dulu pernah tumbuh dan berjuang di sini. Reuni ini bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan momen pengingat tentang tanggung jawab moral yang kini saya emban sebagai seorang alumni.

Sebuah Harapan: Menjemput Langkah S3

​Di tengah keriuhan acara Munas, ada satu doa yang kembali menguat dalam hati saya: Semoga saya bisa kembali lagi ke IPB sebagai mahasiswa S3. Saya membayangkan diri saya kembali ke laboratorium, ke perpustakaan LSI, dan ke tengah-tengah masyarakat untuk melakukan riset yang lebih dalam dan berdampak.

Keinginan ini muncul bukan dari ambisi gelar belaka, tapi dari kesadaran bahwa masih banyak hal yang ingin saya kontribusikan. Saya membayangkan bisa duduk kembali beradu argumen dengan para profesor, memperkaya pemikiran saya, dan menghasilkan karya ilmiah yang bisa menjadi solusi nyata bagi pembangunan bangsa. Saya memohon semoga Allah memudahkan jalan itu, membuka pintu kesempatan, dan memberikan kekuatan untuk melangkah lagi di jalur akademik ini.

Sebab bagi saya, perjalanan menuntut ilmu bukan hanya soal menambah deretan gelar di belakang nama, tapi soal memperluas manfaat dan memperdalam pengabdian. Saya percaya bahwa belajar adalah proses seumur hidup, dan IPB adalah tempat terbaik bagi saya untuk melanjutkan perjuangan intelektual tersebut demi kemaslahatan yang lebih besar.

Perjalanan yang Belum Usai

​Jika saya melihat perjalanan ini sebagai garis lurus, mungkin akan tampak biasa. Tapi ketika saya melihatnya sebagai rangkaian titik yang saling terhubung dari pelatihan sederhana, menjadi mahasiswa S2, aktif organisasi, rutin mengaji di Rabu pagi, hingga hadir di Munas Alumni saya menyadari satu hal yang fundamental: Allah mengatur setiap pertemuan dan kejadian dengan sangat indah.

Setiap bab dalam hidup saya di IPB adalah bagian dari skenario besar yang sedang membentuk masa depan saya. Tidak ada yang sia-sia dari setiap tetes keringat saat mengerjakan tesis maupun setiap menit yang dihabiskan untuk merenung di teras masjid. Semuanya menyatu menjadi sebuah harmoni perjalanan yang penuh hikmah dan pelajaran berharga.

Perjalanan saya bersama IPB belum selesai. Masih ada harapan, doa, dan langkah-langkah baru yang ingin saya tempuh dengan penuh semangat. Semoga perjalanan ini terus berlanjut dengan kebaikan yang semakin luas, dan semoga suatu hari nanti, saya bisa menuliskan bab baru tentang keberhasilan menyelesaikan jenjang tertinggi di kampus tercinta ini.

 


Reuni 15 Tahun di Hotel Alatas Antara Tonjokan Sayang dan Semangat Desa Iklim

Kadang hidup memang punya cara sendiri buat kasih kejutan. Kemarin niat saya ke Hotel Alatas Tolitoli cuma satu hadir di acara Sosialisasi P...