Jumat, 23 Januari 2026

Reuni 15 Tahun di Hotel Alatas Antara Tonjokan Sayang dan Semangat Desa Iklim



Kadang hidup memang punya cara sendiri buat kasih kejutan. Kemarin niat saya ke Hotel Alatas Tolitoli cuma satu hadir di acara Sosialisasi Program Kampung Iklim ProKlim yang diadakan DLH Provinsi Sulteng. Tapi begitu masuk aula rencana itu buyar seketika. Mata saya tertuju pada satu sosok yang sangat saya kenal.

Beliau adalah Bapak Dr Ir Abd Rauf MS. Memori saya langsung loncat ke belasan tahun lalu ke lorong-lorong Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. Pak Rauf ini dosen pembimbing skripsi saya dulu. Beliau yang kawal langkah awal saya waktu masih jadi mahasiswa yang idealis tapi sebenarnya masih buta soal urusan lapangan.

Coba bayangkan sudah 15 tahun sejak saya lulus kuliah. Kami jalani garis hidup masing-masing dan tiba-tiba bertemu lagi di forum yang sama. Rasanya luar biasa. Sekarang kami bukan lagi duduk sebagai dosen dan mahasiswa yang sedang bimbingan tapi jadi mitra diskusi untuk memikirkan masa depan lingkungan di Sulawesi Tengah. Pertemuan ini bagi saya seperti jawaban atas perjalanan panjang yang sudah saya lalui selama ini.

Mentor Kelas Dunia yang Tetap Membumi

Buat kawan-kawan di dunia pertanian atau riset nama Pak Abd Rauf pasti sudah tidak asing. Beliau punya dedikasi yang ngeri di dunia pendidikan. Kiprahnya tidak main-main sampai ke level internasional lewat FAO Food and Agriculture Organization di bawah PBB. Rekam jejak beliau membuktikan kalau ilmu dari kampus di Sulteng itu bisa mewarnai kebijakan dunia.

Tapi buat saya Pak Rauf bukan cuma soal gelar atau jabatan di PBB. Beliau adalah dosen yang cara mendidiknya sangat kena di hati. Beliau tidak cuma ajarkan rumus atau metode penelitian yang rumit. Beliau ajarkan mental. Saya ingat betul pesannya sarjana pertanian tidak boleh cuma pintar di atas kertas tapi harus tahu betul aroma tanah dan bagaimana rasanya keringat petani di sawah.

Satu hal yang tidak akan pernah saya lupa sampai kapan pun adalah tonjokan sayang beliau. Dulu kalau bimbingan skripsi dan draf saya masih kacau atau kalau saya sudah mulai malas-malasan beliau pasti kasih tonjokan kecil di bahu. Itu cara unik beliau kasih semangat. Rasanya bukan sakit tapi seperti disetrum untuk segera balik ke depan komputer dan selesaikan revisi malam itu juga.

Tonjokan itu bukan sekadar gerakan tangan tapi transfer energi. Itu yang bikin saya kuat lewatkan malam-malam riset di Palu sampai akhirnya bisa lanjut kuliah Magister di IPB University. Tanpa bimbingan keras tapi penuh kasih sayang dari beliau mungkin saya tidak akan punya daya tahan untuk meneliti dinamika kelompok di 12 desa sekitar kampus Bogor dulu.

Dari Skripsi Pindah ke Urusan Mitigasi Iklim

Melihat Pak Rauf masih sangat aktif dan bersemangat di forum ProKlim ini benar-benar jadi tamparan positif buat saya. Beliau tunjukkan kalau ilmu itu tidak ada masa pensiunnya. Kalau sang mentor yang sudah level dunia saja masih mau turun gunung urus desa-desa di Tolitoli dan Buol rasanya malu kalau saya yang lebih muda cuma jadi penonton di pinggir lapangan.

ProKlim yang kami diskusikan di Hotel Alatas ini memang butuh orang-orang seperti beliau. Orang yang cerdas secara akademik tapi mau rendah hati saat bicara dengan masyarakat di tingkat bawah. Perpaduan ilmu agronomi yang beliau ajarkan dulu dengan ilmu penyuluhan pembangunan yang saya pelajari di IPB sekarang menemukan titik temunya. Kita tidak bisa bicara mitigasi iklim kalau tidak sentuh manusianya.

Pertemuan kemarin jadi pengingat keras buat saya. Ilmu yang saya dapat 15 tahun lalu dari beliau tidak boleh menguap begitu saja. Ada beban moral untuk teruskan api semangat beliau. ProKlim di Sulteng harus kita kawal supaya tidak jadi sekadar acara seremonial di hotel. Program ini harus bisa hidupkan kelompok tani perkuat peran ibu-ibu KWT dan bikin desa kita tangguh hadapi cuaca ekstrem.

Penutup: Terus Nyalakan Api Semangat

Sehat selalu Pak Rauf. Terima kasih untuk bimbingannya untuk tonjokan sayangnya dan untuk teladan yang Bapak kasih sampai hari ini. Bertemu Bapak di acara DLH Provinsi ini rasanya seperti dapat baterai baru. Pengabdian Bapak di FAO itu mimpi saya tapi kerja nyata Bapak buat petani lokal itu inspirasi yang paling nyata buat saya.

Perjalanan saya mungkin sudah jauh dari Palu sampai ke Bogor tapi akar ilmu saya tetap ada di Bumi Tadulako lewat bimbingan beliau. Sebagai Ketua DPC HA IPB Buol saya makin merasa punya tugas besar untuk pastikan sinergi antara guru dan murid ini berlanjut jadi aksi nyata di lapangan.

Membangun Desa Iklim itu intinya adalah membangun karakter orang-orang di dalamnya persis seperti Pak Rauf membangun karakter saya 15 tahun lalu. Mari kita tanam masa depan ini sama-sama mulai dari desa untuk Sulawesi Tengah yang lebih tangguh dan sejahtera.

Nah itu tadi sedikit cerita reuni saya di sela acara ProKlim kemarin. Bertemu Pak Rauf mengingatkan saya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari bimbingan dan kolaborasi yang kuat. Kalau teman-teman sendiri siapa sosok mentor atau dosen yang paling berkesan dan punya cara unik saat mendidik kalian dulu. Dan menurut Bapak Ibu tantangan apa yang sebenarnya paling berat dihadapi desa kita saat ini agar benar-benar tangguh terhadap perubahan iklim. Mari kita bernostalgia sekaligus berdiskusi di kolom komentar ya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Reuni 15 Tahun di Hotel Alatas Antara Tonjokan Sayang dan Semangat Desa Iklim

Kadang hidup memang punya cara sendiri buat kasih kejutan. Kemarin niat saya ke Hotel Alatas Tolitoli cuma satu hadir di acara Sosialisasi P...