Hari ini menjadi salah satu catatan sejarah yang akan
selalu kami simpan dalam memori perjalanan keluarga kami. Di bawah langit
Kabupaten Tolitoli, tepatnya di halaman Kantor Bupati Kabupaten Tolitoli yang
khidmat, saya menyaksikan istri saya resmi mengambil sumpah dan dilantik
sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu. Momen
ini bukan sekadar perubahan status kepegawaian dari tenaga honorer menjadi
aparatur sipil, melainkan sebuah amanah baru yang menandai fase pengabdian yang
lebih matang dan terstruktur dalam hidupnya.
Sebagai suami, ada rasa haru yang sulit digambarkan saat
melihatnya berdiri tegap mengenakan seragam kebanggaan di antara barisan rekan
sejawatnya di tengah lapangan upacara. Ini adalah jawaban dari banyak doa yang
dipanjatkan di sepertiga malam, serta buah dari usaha yang tak kenal lelah di
tengah kesibukan mengurus rumah tangga yang sering kali menyita waktu dan pikiran.
Melihatnya melangkah maju di halaman kantor bupati untuk menerima SK pelantikan
adalah pengingat nyata bagi saya bahwa setiap perjuangan yang dilakukan dengan
sabar, ikhlas, dan konsisten pasti akan membuahkan hasil yang manis pada
waktunya.
Momen ini juga terasa begitu spesial karena menjadi
titik balik setelah sekian lama ia mendedikasikan diri dalam ketidakpastian
status. Ada pancaran kebahagiaan yang berbeda di wajahnya hari ini, sebuah
binar mata yang menceritakan tentang harapan baru untuk masa depan keluarga
kami dan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat. Pelantikan ini bagi kami
adalah simbol dari sebuah kehormatan yang diberikan negara atas dedikasi yang
telah ia tanamkan selama bertahun-tahun di bidang kesehatan, khususnya bagi
warga di bumi cengkeh, Tolitoli..
Sebuah
Proses yang Tidak Sekadar Formalitas
Pelantikan PPPK ini bukanlah sebuah seremoni yang datang
begitu saja dari langit. Di balik senyum syukur hari ini, ada deretan panjang
perjuangan yang menguji batas kesabaran, komitmen, dan kesiapan mental kami
sekeluarga. Kami masih ingat betul bagaimana hiruk-pikuk persiapan
administrasi, ketegangan saat memantau seleksi berkas, hingga momen-momen
menunggu pengumuman yang menguras energi emosional di tengah ketidakpastian
regulasi yang dinamis. Setiap tahapan seleksi adalah ujian daya tahan, di mana
harapan dan kecemasan sering kali datang silih berganti.
Proses ini adalah guru yang mengajarkan kami tentang
arti ketenangan dan keyakinan bahwa hasil terbaik akan selalu datang tepat pada
waktunya. Hadirnya formasi PPPK paruh waktu ini memberikan ruang yang sangat
berarti, terutama bagi mereka yang ingin tetap mengabdi secara profesional
namun tetap memiliki ruang untuk menyeimbangkan peran di dalam keluarga. Inilah
yang membuat formasi ini begitu istimewa, sebuah keadilan bagi para abdi negara
yang juga merupakan pilar utama di rumah mereka masing-masing, sehingga tugas
negara dan tugas rumah tangga tidak perlu ada yang dikorbankan.
Lebih jauh lagi, skema paruh waktu ini merupakan bentuk
pengakuan negara atas dedikasi mereka yang telah lama mengabdi namun terkendala
oleh keterbatasan formasi penuh waktu. Ini adalah jalan tengah yang bijak,
memberikan kepastian hukum dan kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan
masa-masa sebelumnya. Bagi kami, ini bukan sekadar tentang angka di atas kertas
gaji, melainkan tentang ketenangan jiwa dalam bekerja dan pengakuan atas
eksistensi profesi yang selama ini dijalani dengan penuh keterbatasan.
Makna
Pengabdian di Koridor RSUD Mokopido
Menjadi seorang Bidan di RSUD Mokopido Kabupaten
Tolitoli memiliki dinamika tersendiri yang tidak semua orang pahami. Rumah
sakit ini bukan sekadar tempat kerja bagi istri saya, melainkan saksi bisu
betapa kerasnya perjuangan tenaga kesehatan di garda terdepan pelayanan publik di
daerah. Melayani ibu hamil, membantu proses persalinan yang terkadang penuh
risiko, hingga memastikan bayi lahir dengan selamat adalah tugas-tugas yang
menuntut kesiagaan penuh, baik fisik maupun empati yang mendalam di setiap
detik penugasan.
Setiap lorong di RSUD Mokopido menyimpan cerita tentang
perjuangan antara hidup dan mati, dan di sanalah istri saya mengambil peran.
Status PPPK paruh waktu ini tidak sedikit pun mengurangi bobot tanggung jawab
tersebut. Profesionalisme baginya bukan tentang berapa jam ia berada di bangsal
rumah sakit, melainkan tentang kualitas sentuhan dan perawatan yang ia berikan
kepada masyarakat Tolitoli. Ada tanggung jawab moral yang melekat pada setiap
tindakan medis, ada masyarakat yang menaruh harapan besar pada pundaknya, dan
ada niat baik yang kini memiliki wadah legal yang lebih terstruktur.
Kami percaya bahwa pengabdian tidak harus selalu
bersifat full-time untuk menjadi berdampak. Yang utama adalah
kemanfaatan yang dirasakan oleh sesama. Di tengah keterbatasan tenaga medis
yang sering terjadi di daerah, kontribusi sekecil apa pun dari seorang bidan
yang bekerja dengan hati akan sangat berarti bagi keberlangsungan hidup
generasi masa depan Tolitoli. Bekerja paruh waktu justru memberinya kesempatan
untuk tetap memberikan performa terbaik tanpa harus kehilangan momen berharga
dalam mengasuh anak-anak di rumah.
Makna
Profesionalisme dalam Profesi Kesehatan
Dalam kacamata kami, profesionalisme bukan hanya tentang
status pekerjaan atau seragam yang dikenakan, tetapi tentang nilai-nilai
kemanusiaan yang dibawa saat menjalankan tugas. Menjadi bagian dari tenaga
pelayanan kesehatan melalui skema PPPK memiliki arti tersendiri bagi seorang
bidan. Ada etika profesi yang harus dijunjung tinggi dan ada standar pelayanan
yang harus dipenuhi demi keselamatan pasien. Istri saya menyadari bahwa setiap
diagnosa dan tindakan yang diambil adalah pertanggungjawaban dunia dan akhirat.
Mengabdi dalam porsi paruh waktu justru memberikan
kesempatan bagi istri saya untuk tetap segar secara mental saat turun ke
lapangan. Dengan waktu yang lebih fleksibel, ia dapat mengelola energi dengan
lebih baik, sehingga setiap pasien yang ia tangani di RSUD Mokopido mendapatkan
perhatian yang optimal. Inilah esensi dari pelayanan publik yang sesungguhnya:
memberikan yang terbaik dengan sumber daya yang ada untuk kemaslahatan orang
banyak, tanpa mengabaikan kesehatan mental dan keseimbangan hidup pribadi sang
pemberi layanan.
Lebih dari itu, status ini juga memotivasi dirinya untuk
terus meningkatkan kompetensi. Dunia kebidanan terus berkembang, dan menjadi
bagian dari ASN (Aparatur Sipil Negara) menuntutnya untuk terus memperbarui
ilmu pengetahuan demi pelayanan yang lebih aman dan modern. Profesionalisme
adalah perjalanan belajar yang tiada henti, dan pelantikan hari ini adalah
pintu masuk menuju level kompetensi yang lebih tinggi lagi.
Doa
dan Harapan di Balik Seragam Baru
Bagi kami, merayakan hari pelantikan ini tidak harus dengan
kemewahan yang berlebihan. Rasa syukur kami tumpahkan dalam doa-doa sederhana
namun mendalam yang dipanjatkan bersama keluarga kecil kami di rumah. Kami
sangat bersyukur karena amanah ini datang di waktu yang tepat, saat kami juga
sedang belajar untuk terus bertumbuh dan mandiri. Amanah ini bukan hanya
membuka pintu rezeki yang baru, tetapi juga menyuntikkan energi positif bagi
kami untuk terus memberikan yang terbaik bagi lingkungan sekitar.
Harapan saya sebagai suami untuk langkahnya ke depan
sangatlah sederhana namun prinsipil:
- Semoga setiap
tugas yang ia jalankan di RSUD Mokopido selalu berlandaskan ketulusan
hati, menjadikannya bidan yang tidak hanya terampil secara teknis tapi
juga lembut dalam pelayanan.
- Semoga setiap
lelahnya saat menolong persalinan atau merawat pasien di jam-jam yang
melelahkan menjadi keberkahan yang mengalir bagi keluarga dan masyarakat
luas.
- Semoga Allah
mempermudah segala tanggung jawabnya, menjauhkannya dari segala marabahaya
saat bertugas, dan menjadikan setiap peluhnya bernilai ibadah yang
diterima.
Dalam dunia kesehatan, setiap detik pelayanan adalah
bentuk nyata dari panggilan kemanusiaan yang luhur. Maka, setiap tugas yang
dijalankan bukan lagi sekadar soal pekerjaan demi materi, melainkan tentang
menjawab panggilan Tuhan untuk menolong sesama makhluk-Nya. Pekerjaan ini
adalah jembatan kebaikan yang kami harap dapat menuntun keluarga kami menuju
keberkahan hidup yang hakiki.
Penutup:
Awal dari Perjalanan Panjang
Pelantikan hari ini di halaman Kantor Bupati Kabupaten Tolitoli
bukanlah garis finis atau akhir dari sebuah perjuangan panjang yang melelahkan.
Sebaliknya, ini adalah garis start dari sebuah perjalanan baru yang jauh
lebih menantang dan penuh warna. Tugas-tugas yang telah menanti di RSUD
Mokopido akan menjadi ladang pengabdian yang luas sekaligus ruang bagi istri
saya untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan mendewasakan diri dalam
profesinya sebagai bidan yang berdedikasi tinggi.
Kami menyadari bahwa ke depan mungkin akan ada tantangan
baru, kelelahan baru, dan dinamika pekerjaan yang lebih kompleks seiring dengan
perkembangan regulasi kesehatan. Namun, dengan status baru sebagai PPPK paruh
waktu, kami melangkah dengan pondasi yang lebih kuat dan hati yang lebih
tenang. Kami percaya bahwa amanah yang datang tidak pernah salah alamat, dan
setiap langkah yang diniatkan untuk kebaikan pasti akan menemui jalannya
sendiri melalui pertolongan-Nya.
Alhamdulillah, hari ini benar-benar menjadi hari yang
baik untuk kami semua. Semoga langkah-langkah setelah ini juga selalu dipenuhi
dengan kebaikan, kemudahan, dan keberkahan yang sama. Selamat bertugas untuk
istriku tercinta, selamat mengabdi untuk tanah Tolitoli melalui RSUD Mokopido.
Teruslah menjadi cahaya bagi ibu dan bayi yang membutuhkan tangan dinginmu.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar