Minggu, 15 Februari 2026

Menanam Masa Depan: Membangun Desa Iklim Berbasis Dinamika Kelompok dan Ketahanan Pangan

 

Perubahan iklim bukan lagi sekadar dongeng sains yang hanya diperdebatkan di ruang seminar atau isu masa depan yang jauh di cakrawala. Ia adalah realitas pahit yang hari ini mengetuk pintu rumah kita tanpa permisi. Kita melihatnya pada kalender tanam para petani cengkeh di Tolitoli yang kini kian kacau akibat anomali cuaca hingga ancaman keselamatan serta penurunan hasil tangkap para nelayan di pesisir Buol akibat gelombang yang tak lagi bisa diprediksi. Suhu yang kian ekstrem dan pergeseran musim yang tidak menentu adalah sinyal kuat bahwa alam sedang mengirimkan pesan darurat kepada kita semua. Fenomena ini bukan lagi sekadar deretan angka di atas kertas penelitian melainkan ancaman langsung yang nyata bagi kedaulatan pangan dan fondasi kesejahteraan keluarga di pedesaan.

Hari ini saya berkesempatan hadir dalam kegiatan Sosialisasi Program Kampung Iklim (ProKlim) yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tengah di Hotel Alatas Tolitoli. Di ruangan ini saya melihat optimisme terpancar dari wajah para penggerak desa, aparatur pemerintah, dan para pemerhati lingkungan yang hadir. Namun di balik antusiasme tersebut tersimpan tanya besar di benak saya mengenai bagaimana kita memastikan semangat yang meluap-luap ini tidak padam begitu saja saat pintu aula ditutup dan acara resmi berakhir. Kita sering kali terjebak dalam euforia seremoni namun kehilangan napas dalam implementasi jangka panjang.

Sebagai seorang akademisi dan Ketua DPC Himpunan Alumni IPB (HA IPB) Buol, kehadiran saya di forum ini bukan sekadar untuk memenuhi undangan formal atau menggugurkan kewajiban. Ada kegelisahan akademis sekaligus semangat pengabdian yang ingin saya bagikan kepada rekan-rekan semua. Saya memandang ProKlim bukan sebagai beban administratif baru yang menambah pekerjaan pemerintah desa melainkan sebagai peluang emas untuk menata ulang kemandirian masyarakat di tingkat tapak. ProKlim harus menjadi momentum untuk mengembalikan kearifan lokal yang dipadukan dengan sains modern guna menciptakan desa yang resilien.

Pelajaran dari Tanah Tadulako hingga Kampus Rakyat IPB

Perjalanan intelektual saya dalam memahami hubungan kompleks antara manusia dan lingkungan dimulai di Universitas Tadulako. Saat S1 saya kuliah di program studi agronomi di mana saya mulai jatuh cinta pada dunia mikrobiologi tanah dan manajemen pengelolaan limbah organik. Fokus saya kala itu sangat teknis yaitu mencari solusi sederhana namun aplikatif bagi masalah lingkungan di sekitar kita. Saya meneliti bagaimana limbah organik yang sering dianggap sebagai sampah visual dan sumber bau bisa disulap menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis tinggi melalui teknologi pupuk Kascing atau Bekas Cacing.

Namun dunia riset memberikan saya pelajaran tentang kerendahan hati dan ketelitian yang luar biasa. Saat itu hasil riset saya tidak menggembirakan karena pertumbuhan tanaman tidak sesuai dengan teori serta hasil riset terdahulu yang relevan. Setelah dilakukan penelusuran mendalam ternyata penyebab utamanya adalah pupuk kascing yang saya gunakan belum matang secara fisik dan kimia. Hal ini menjadi catatan kritis yang sangat penting karena jarang diketahui oleh petani di lapangan. Banyak petani yang merasa skeptis terhadap pupuk organik hanya karena mereka menggunakan produk yang belum matang sehingga justru menghambat pertumbuhan tanaman. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa solusi teknis tidak hanya harus tersedia secara murah tetapi harus disertai dengan pemahaman mendalam mengenai standar kualitas agar tidak menjadi bumerang bagi pengguna.

Seiring berjalannya waktu saya menyadari bahwa kecanggihan teknologi pertanian hanyalah satu sisi dari mata uang pembangunan. Perjalanan saya kemudian berlanjut ke IPB University untuk menempuh studi Magister di bidang Penyuluhan Pembangunan. Di Kampus Rakyat inilah paradigma saya berubah secara total. Saya mulai melihat pembangunan bukan lagi sekadar urusan angka produksi atau pertumbuhan tanaman melainkan dari sudut pandang sosiologis dan psikologi kemasyarakatan. Ternyata kemajuan sebuah desa tidak pernah ditentukan oleh seberapa canggih alat atau seberapa banyak benih yang diberikan oleh pemerintah melainkan oleh manusia-manusia di dalamnya.

Misteri 12 Desa Penyangga IPB: Mengapa Program Gagal?

Kesadaran sosiologis ini semakin kuat saat saya melakukan riset tesis di 12 desa yang melingkari kampus IPB Bogor. Wilayah-wilayah ini mendapatkan intervensi yang sangat serius melalui program Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Logikanya dengan pendampingan langsung dari pakar pertanian terbaik di negeri ini seluruh desa tersebut seharusnya sukses besar dalam menciptakan kemandirian pangan yang berkelanjutan. Namun kenyataan di lapangan sungguh kontras. Faktanya dari 12 desa tersebut hanya 2 desa yang kelompoknya benar-benar bertahan dan berkembang secara mandiri.

Sepuluh desa lainnya perlahan kembali ke pola lama di mana lahan pekarangan kembali terbengkalai dan kelompok tani hanya menjadi nama tanpa aktivitas di atas kertas. Hasil analisis mendalam saya menunjukkan satu benang merah yang sangat tebal bahwa keberhasilan sebuah program lingkungan sangat bergantung pada Kepemimpinan Lokal dan Kedinamisan Kelompok. Di desa yang sukses terdapat sosok penggerak yang mampu membangun komunikasi dua arah serta menciptakan rasa memiliki yang kuat di antara anggota. Mereka tidak memandang program sebagai proyek pemberian pemerintah yang bisa ditinggalkan begitu saja melainkan sebagai kebutuhan bersama untuk bertahan hidup dan sejahtera.

ProKlim Sulawesi Tengah: Melampaui Sekadar Proyek

Berdasarkan refleksi panjang tersebut saya meyakini bahwa di Sulawesi Tengah khususnya di Tolitoli dan Buol kita harus membangun gerakan ProKlim yang berakar kuat dari bawah atau bottom-up melalui empat pilar strategis.

a.       Pertama, kita butuh teknologi yang membumi namun tetap berkualitas. Inovasi seperti pupuk organik harus diajarkan dengan SOP yang benar agar hasilnya konsisten dan tidak mengecewakan petani. Kita harus memastikan bahwa teknologi yang dibawa ke desa adalah teknologi yang bisa dikuasai sepenuhnya oleh warga bukan teknologi yang menciptakan ketergantungan pada pihak luar.

b.  Kedua, penguatan kelembagaan lokal adalah harga mati. Intervensi sosial harus berjalan beriringan dengan intervensi teknis. Kita perlu menghidupkan kembali nyawa dalam kelompok tani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) bukan hanya sebagai syarat administrasi penerimaan bantuan tetapi sebagai wadah belajar dan berbagi risiko.

c. Ketiga, integrasi ekonomi hijau menjadi kunci keberlanjutan. Kita harus jujur bahwa sulit mengajak masyarakat menjaga hutan atau menanam pohon jika perut mereka lapar. Menjaga iklim harus berbanding lurus dengan upaya mengisi dapur. Saat masyarakat merasakan manfaat ekonomi dari tanaman obat atau sayuran organik maka mereka akan menjaga lingkungan dengan sendirinya tanpa perlu diawasi.

d.    Keempat, kolaborasi lintas sektor yang inklusif sangat diperlukan. Dinas Lingkungan Hidup tidak mungkin memikul beban ini sendirian di pundaknya. Perlu ada sinergi yang harmonis antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan organisasi profesi seperti alumni perguruan tinggi. Di sinilah peran strategis alumni IPB untuk turun gunung membawa ilmu dari ruang kelas ke tengah sawah serta membantu menerjemahkan kebijakan pemerintah yang rumit menjadi aksi nyata yang mudah dipahami oleh masyarakat kecil di pelosok desa.

Penutup: Sebuah Panggilan untuk Berbakti

Sebagai penutup saya ingin menegaskan bahwa sudah saatnya kita para akademisi dan kaum intelektual tidak hanya nyaman berdiam diri di menara gading. Kita tidak boleh hanya menjadi pengamat di balik meja atau sekadar kritikus di media sosial. Tugas besar kita hari ini adalah menjadi jembatan yang kokoh untuk mendampingi masyarakat dari fase sekadar sadar akan bahaya perubahan iklim hingga mereka benar-benar mandiri secara pengetahuan dan ekonomi dalam melakukan mitigasi.

Sebagai Ketua DPC HA IPB Buol saya menyatakan kesiapan penuh untuk menggerakkan seluruh potensi jejaring alumni yang kami miliki guna mengawal program ProKlim ini di Sulawesi Tengah. Kita memiliki sumber daya manusia, kita memiliki perangkat keilmuan, dan yang paling penting kita memiliki semangat untuk membangun tanah kelahiran. Mari kita bangun desa-desa yang tidak hanya tangguh menghadapi bencana iklim tetapi juga mandiri secara pangan dan sejahtera secara ekonomi. Mari berkarya dengan nyata bukan sekadar dengan kata-kata indah di atas podium.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menanam Masa Depan: Membangun Desa Iklim Berbasis Dinamika Kelompok dan Ketahanan Pangan

  Perubahan iklim bukan lagi sekadar dongeng sains yang hanya diperdebatkan di ruang seminar atau isu masa depan yang jauh di cakrawala. Ia ...