Kamis, 25 Desember 2025

Kembali ke IPB: Jejak Perjalanan, Rasa Syukur, dan Harapan Baru


Ada perjalanan yang tampak sederhana saat dijalani, namun ketika waktu mengajak kita menoleh ke belakang, barulah terlihat bahwa setiap langkah sebenarnya sedang dirangkai dengan rapi oleh takdir. Sering kali, kita tidak menyadari bahwa sebuah kunjungan singkat, pertemuan kecil, atau pengalaman sementara, kelak menjadi bab penting dalam hidup. Begitulah hubungan saya dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) tempat yang menyimpan banyak cerita, pembelajaran, dan perubahan diri.

Sejujurnya, saya tidak pernah menyangka bahwa kampus ini akan menjadi bagian besar dari identitas saya. Dulu, IPB bagi saya hanyalah sebuah nama besar di bidang pertanian, namun seiring berjalannya waktu, ia bertransformasi menjadi rumah kedua. Setiap kali saya kembali ke kampus ini, ada rasa hangat yang muncul begitu saja. Seolah-olah tempat ini bukan sekadar ruang akademik, tetapi bagian dari perjalanan spiritual, intelektual, sekaligus emosional yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih matang.

Bermula dari Benih yang Tertanam Diam-Diam

​Sekitar satu tahun sebelum resmi menjadi mahasiswa S2 di IPB, saya sempat datang ke kampus ini hanya untuk mengikuti pelatihan Tanaman Obat Keluarga. Tujuannya sederhana saja: belajar hal baru. Saat itu, sama sekali tidak ada bayangan bahwa suatu saat saya akan menghabiskan tiga tahun perjalanan akademik di sini. Saya hanya datang sebagai orang asing yang ingin menyerap ilmu praktis tentang tanaman herbal.

Namun, pelatihan singkat itulah yang justru menjadi pintu awal yang tidak saya sadari. Selama pelatihan, saya tidak hanya sibuk mencatat materi, tapi juga terpikat oleh ritme kehidupan di sini. Saya melihat bagaimana para praktisi dan dosen berinteraksi dengan penuh dedikasi, seolah setiap jengkal tanah di kampus ini memiliki nilai ilmu.

Saya masih ingat atmosfer ilmiah yang begitu hidup di setiap sudut kampus, serta ketenangan dari pepohonan rindang khas IPB yang sejuk di mata. Waktu itu saya belum paham maknanya, tapi ada perasaan familiar yang muncul seolah kampus ini sedang menyapa dan menanamkan benih untuk perjalanan panjang yang akan datang. Perasaan "pulang" itu sudah ada sejak kunjungan pertama tersebut, meski saya belum tahu kapan saya akan benar-benar kembali.

Tahun-Tahun yang Mengubah Cara Pandang

​Tak lama setelah kunjungan itu, pintu besar benar-benar terbuka. Saya diterima sebagai mahasiswa S2 di Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan, dan mulai berkuliah dari tahun 2014 hingga lulus di 2017. Tiga tahun itu bukan sekadar masa belajar mengejar gelar, tapi benar-benar masa pembentukan diri yang fundamental.

Saya "tenggelam" dalam dunia akademik yang menantang namun sangat menyenangkan. Mulai dari membedah teori pembangunan, komunikasi, hingga dinamika sosial di tingkat desa. Banyak diskusi di kelas yang membuka cara pandang saya terhadap masyarakat dan bagaimana sebuah ilmu bisa diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan. Saya belajar bahwa pembangunan bukan hanya soal angka statistik, tapi soal bagaimana manusia di dalamnya berdaya dan bergerak maju.

Lebih dari sekadar materi kuliah, saya juga belajar tentang ketangguhan mental. Menghadapi tugas-tugas yang menumpuk, mengejar narasumber penelitian ke lapangan, hingga merumuskan tesis yang layak uji, semuanya adalah ujian kesabaran. Di IPB, saya diajarkan untuk tidak mudah puas dengan jawaban yang dangkal, melainkan selalu mencari akar masalah dengan pendekatan yang logis namun tetap humanis.

Ruang Tumbuh di Forum Mahasiswa Pascasarjana

​Di sela kesibukan kuliah, saya memutuskan untuk aktif di Forum Mahasiswa Pascasarjana IPB. Wadah inilah yang mempertemukan saya dengan teman-teman dari berbagai fakultas dan disiplin ilmu yang berbeda. Dari sini saya belajar banyak hal di luar bangku kelas: yaitu kepemimpinan, kerja kolaboratif, hingga cara membangun jejaring di tingkat yang lebih luas.

Setiap rapat dan kegiatan kampus menjadi proses pendewasaan karakter. Kami sering terlibat dalam diskusi lintas disiplin yang sangat kaya; seorang ahli sosial berbicara dengan ahli agronomi, atau ahli ekonomi berdiskusi dengan ahli lingkungan. Perbedaan sudut pandang ini justru menyatukan kami dalam visi yang lebih besar tentang bagaimana membawa perubahan bagi masyarakat.

Bahkan, banyak sahabat dan relasi profesional yang saya miliki hari ini bermula dari obrolan-obrolan di koridor forum tersebut. Kami tidak hanya berbagi beban soal tugas kuliah, tetapi juga berbagi mimpi dan strategi masa depan. Kebersamaan di forum ini menyadarkan saya bahwa intelektualitas akan jauh lebih bermakna jika disatukan dengan kemampuan berorganisasi dan empati sosial yang kuat.

Teduhnya Rabu Pagi di Masjid Al Hurriyah IPB

Ada satu rutinitas yang selalu punya tempat khusus di hati saya yaitu mengikuti pengajian setiap hari Rabu pagi di Masjid Al Hurriyah. Di tengah padatnya jadwal kuliah dan dinamika organisasi yang menguras energi, Al Hurriyah menjadi tempat saya "pulang" sejenak sebelum memulai hiruk-pikuk hari. Suasana pagi yang tenang di masjid ini memberikan kekuatan tersendiri untuk menghadapi tumpukan tugas.

Setiap pekan, saya duduk bersama jamaah lain di bawah kubah masjid yang ikonik itu, menyerap tausiyah yang menyejukkan tentang sabar, syukur, dan istiqamah. Sinar matahari pagi yang masuk di sela-sela arsitektur masjid, ditambah udara Dramaga yang masih segar, seolah mencuci semua rasa lelah dan stres akademik. Di sana, status sebagai mahasiswa pascasarjana sejenak dilepaskan, dan saya kembali menjadi hamba yang butuh bimbingan sebelum bergelut dengan teori dan jurnal.

Di sanalah saya belajar menyeimbangkan ambisi duniawi dengan ketenangan ruhani. Bagi saya, Al Hurriyah di Rabu pagi bukan sekadar rutinitas, tapi sebuah "asupan jiwa" yang membantu saya melewati masa studi dengan hati yang jauh lebih tenang. Pengalaman batin ini mengajarkan saya bahwa setinggi apa pun ilmu yang kita kejar, tanpa landasan spiritual yang kuat, ilmu itu akan kehilangan keberkahannya.

Kembali untuk Munas Alumni IPB

​Tahun demi tahun berlalu, dan kini langkah kaki membawa saya kembali ke IPB. Kali ini hadirnya bukan sebagai mahasiswa yang terburu-buru mengejar jadwal kelas, melainkan sebagai bagian dari kegiatan Munas Forum Alumni IPB. Rasanya sangat berbeda, ada haru sekaligus kebanggaan yang menyeruak saat melihat wajah-wajah lama yang kini sudah berkiprah di berbagai bidang.

Ada kedewasaan yang tumbuh, tapi kenangan lama mendadak hidup kembali dengan begitu nyata. Saya melihat kampus ini sudah banyak berubah, gedung-gedung semakin megah, fasilitasnya semakin lengkap, namun "ruh" keilmuannya tetap sama. Kehadiran saya di Munas ini menjadi ajakan untuk menoleh sejenak pada akar saya, pada tempat yang dulu memberi saya ruang untuk tumbuh dan berekspresi.

Saat berjalan melewati gedung-gedung tempat dulu belajar, lorong-lorong yang dulu penuh diskusi, hingga jalan setapak menuju Al Hurriyah, semuanya terasa seperti menyapa. Saya seperti melihat kembali versi diri saya yang dulu pernah tumbuh dan berjuang di sini. Reuni ini bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan momen pengingat tentang tanggung jawab moral yang kini saya emban sebagai seorang alumni.

Sebuah Harapan: Menjemput Langkah S3

​Di tengah keriuhan acara Munas, ada satu doa yang kembali menguat dalam hati saya: Semoga saya bisa kembali lagi ke IPB sebagai mahasiswa S3. Saya membayangkan diri saya kembali ke laboratorium, ke perpustakaan LSI, dan ke tengah-tengah masyarakat untuk melakukan riset yang lebih dalam dan berdampak.

Keinginan ini muncul bukan dari ambisi gelar belaka, tapi dari kesadaran bahwa masih banyak hal yang ingin saya kontribusikan. Saya membayangkan bisa duduk kembali beradu argumen dengan para profesor, memperkaya pemikiran saya, dan menghasilkan karya ilmiah yang bisa menjadi solusi nyata bagi pembangunan bangsa. Saya memohon semoga Allah memudahkan jalan itu, membuka pintu kesempatan, dan memberikan kekuatan untuk melangkah lagi di jalur akademik ini.

Sebab bagi saya, perjalanan menuntut ilmu bukan hanya soal menambah deretan gelar di belakang nama, tapi soal memperluas manfaat dan memperdalam pengabdian. Saya percaya bahwa belajar adalah proses seumur hidup, dan IPB adalah tempat terbaik bagi saya untuk melanjutkan perjuangan intelektual tersebut demi kemaslahatan yang lebih besar.

Perjalanan yang Belum Usai

​Jika saya melihat perjalanan ini sebagai garis lurus, mungkin akan tampak biasa. Tapi ketika saya melihatnya sebagai rangkaian titik yang saling terhubung dari pelatihan sederhana, menjadi mahasiswa S2, aktif organisasi, rutin mengaji di Rabu pagi, hingga hadir di Munas Alumni saya menyadari satu hal yang fundamental: Allah mengatur setiap pertemuan dan kejadian dengan sangat indah.

Setiap bab dalam hidup saya di IPB adalah bagian dari skenario besar yang sedang membentuk masa depan saya. Tidak ada yang sia-sia dari setiap tetes keringat saat mengerjakan tesis maupun setiap menit yang dihabiskan untuk merenung di teras masjid. Semuanya menyatu menjadi sebuah harmoni perjalanan yang penuh hikmah dan pelajaran berharga.

Perjalanan saya bersama IPB belum selesai. Masih ada harapan, doa, dan langkah-langkah baru yang ingin saya tempuh dengan penuh semangat. Semoga perjalanan ini terus berlanjut dengan kebaikan yang semakin luas, dan semoga suatu hari nanti, saya bisa menuliskan bab baru tentang keberhasilan menyelesaikan jenjang tertinggi di kampus tercinta ini.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menanam Masa Depan: Membangun Desa Iklim Berbasis Dinamika Kelompok dan Ketahanan Pangan

  Perubahan iklim bukan lagi sekadar dongeng sains yang hanya diperdebatkan di ruang seminar atau isu masa depan yang jauh di cakrawala. Ia ...