Ada perjalanan yang tampak sederhana saat dijalani,
namun ketika waktu mengajak kita menoleh ke belakang, barulah terlihat bahwa setiap langkah
sebenarnya sedang dirangkai dengan rapi oleh takdir. Sering kali, kita tidak
menyadari bahwa sebuah kunjungan singkat, pertemuan kecil, atau pengalaman
sementara, kelak menjadi bab penting dalam hidup. Begitulah hubungan saya
dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) tempat yang menyimpan banyak cerita,
pembelajaran, dan perubahan diri.
Sejujurnya, saya tidak pernah menyangka bahwa kampus ini
akan menjadi bagian besar dari identitas saya. Dulu, IPB bagi saya hanyalah
sebuah nama besar di bidang pertanian, namun seiring berjalannya waktu, ia
bertransformasi menjadi rumah kedua. Setiap kali saya kembali ke kampus ini,
ada rasa hangat yang muncul begitu saja. Seolah-olah tempat ini bukan sekadar
ruang akademik, tetapi bagian dari perjalanan spiritual, intelektual, sekaligus
emosional yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih matang.
Bermula dari Benih yang Tertanam Diam-Diam
Sekitar satu tahun sebelum resmi menjadi mahasiswa S2
di IPB, saya sempat datang ke kampus ini hanya untuk mengikuti pelatihan
Tanaman Obat Keluarga. Tujuannya sederhana saja: belajar hal baru. Saat itu,
sama sekali tidak ada bayangan bahwa suatu saat saya akan menghabiskan tiga
tahun perjalanan akademik di sini. Saya hanya datang sebagai orang asing yang
ingin menyerap ilmu praktis tentang tanaman herbal.
Namun, pelatihan singkat itulah yang justru menjadi
pintu awal yang tidak saya sadari. Selama pelatihan, saya tidak hanya sibuk
mencatat materi, tapi juga terpikat oleh ritme kehidupan di sini. Saya melihat
bagaimana para praktisi dan dosen berinteraksi dengan penuh dedikasi, seolah
setiap jengkal tanah di kampus ini memiliki nilai ilmu.
Saya masih ingat atmosfer ilmiah yang begitu hidup di
setiap sudut kampus, serta ketenangan dari pepohonan rindang khas IPB yang
sejuk di mata. Waktu itu saya belum paham maknanya, tapi ada perasaan familiar
yang muncul seolah kampus ini sedang menyapa dan menanamkan benih untuk
perjalanan panjang yang akan datang. Perasaan "pulang" itu sudah ada
sejak kunjungan pertama tersebut, meski saya belum tahu kapan saya akan
benar-benar kembali.
Tahun-Tahun yang Mengubah Cara Pandang
Tak lama setelah kunjungan itu, pintu besar benar-benar
terbuka. Saya diterima sebagai mahasiswa S2 di Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan,
dan mulai berkuliah dari tahun 2014 hingga lulus di 2017. Tiga tahun itu bukan
sekadar masa belajar mengejar gelar, tapi benar-benar masa pembentukan diri
yang fundamental.
Saya "tenggelam" dalam dunia akademik yang
menantang namun sangat menyenangkan. Mulai dari membedah teori pembangunan,
komunikasi, hingga dinamika sosial di tingkat desa. Banyak diskusi di kelas
yang membuka cara pandang saya terhadap masyarakat dan bagaimana sebuah ilmu
bisa diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan. Saya belajar bahwa
pembangunan bukan hanya soal angka statistik, tapi soal bagaimana manusia di
dalamnya berdaya dan bergerak maju.
Lebih dari sekadar materi kuliah, saya juga belajar
tentang ketangguhan mental. Menghadapi tugas-tugas yang menumpuk, mengejar narasumber
penelitian ke lapangan, hingga merumuskan tesis yang layak uji, semuanya adalah
ujian kesabaran. Di IPB, saya diajarkan untuk tidak mudah puas dengan jawaban
yang dangkal, melainkan selalu mencari akar masalah dengan pendekatan yang
logis namun tetap humanis.
Ruang Tumbuh di Forum Mahasiswa
Pascasarjana
Di sela kesibukan kuliah, saya memutuskan untuk aktif
di Forum Mahasiswa Pascasarjana IPB. Wadah inilah yang mempertemukan saya
dengan teman-teman dari berbagai fakultas dan disiplin ilmu yang berbeda. Dari
sini saya belajar banyak hal di luar bangku kelas: yaitu kepemimpinan, kerja
kolaboratif, hingga cara membangun jejaring di tingkat yang lebih luas.
Setiap rapat dan kegiatan kampus menjadi proses
pendewasaan karakter. Kami sering terlibat dalam diskusi lintas disiplin yang
sangat kaya; seorang ahli sosial berbicara dengan ahli agronomi, atau ahli
ekonomi berdiskusi dengan ahli lingkungan. Perbedaan sudut pandang ini justru
menyatukan kami dalam visi yang lebih besar tentang bagaimana membawa perubahan
bagi masyarakat.
Bahkan, banyak sahabat dan relasi profesional yang saya
miliki hari ini bermula dari obrolan-obrolan di koridor forum tersebut. Kami
tidak hanya berbagi beban soal tugas kuliah, tetapi juga berbagi mimpi dan
strategi masa depan. Kebersamaan di forum ini menyadarkan saya bahwa
intelektualitas akan jauh lebih bermakna jika disatukan dengan kemampuan
berorganisasi dan empati sosial yang kuat.
Teduhnya Rabu Pagi di Masjid Al Hurriyah IPB
Ada satu rutinitas yang selalu punya tempat khusus di hati
saya yaitu mengikuti pengajian setiap hari Rabu pagi di Masjid Al Hurriyah. Di
tengah padatnya jadwal kuliah dan dinamika organisasi yang menguras energi, Al
Hurriyah menjadi tempat saya "pulang" sejenak sebelum memulai
hiruk-pikuk hari. Suasana pagi yang tenang di masjid ini memberikan kekuatan
tersendiri untuk menghadapi tumpukan tugas.
Setiap pekan, saya duduk bersama jamaah lain di bawah
kubah masjid yang ikonik itu, menyerap tausiyah yang menyejukkan tentang sabar,
syukur, dan istiqamah. Sinar matahari pagi yang masuk di sela-sela arsitektur
masjid, ditambah udara Dramaga yang masih segar, seolah mencuci semua rasa
lelah dan stres akademik. Di sana, status sebagai mahasiswa pascasarjana
sejenak dilepaskan, dan saya kembali menjadi hamba yang butuh bimbingan sebelum
bergelut dengan teori dan jurnal.
Di sanalah saya belajar menyeimbangkan ambisi duniawi
dengan ketenangan ruhani. Bagi saya, Al Hurriyah di Rabu pagi bukan sekadar
rutinitas, tapi sebuah "asupan jiwa" yang membantu saya melewati masa
studi dengan hati yang jauh lebih tenang. Pengalaman batin ini mengajarkan saya
bahwa setinggi apa pun ilmu yang kita kejar, tanpa landasan spiritual yang
kuat, ilmu itu akan kehilangan keberkahannya.
Kembali untuk Munas Alumni IPB
Tahun demi tahun berlalu, dan kini langkah kaki membawa
saya kembali ke IPB. Kali ini hadirnya bukan sebagai mahasiswa yang
terburu-buru mengejar jadwal kelas, melainkan sebagai bagian dari kegiatan
Munas Forum Alumni IPB. Rasanya sangat berbeda, ada haru sekaligus kebanggaan
yang menyeruak saat melihat wajah-wajah lama yang kini sudah berkiprah di
berbagai bidang.
Ada kedewasaan yang tumbuh, tapi kenangan lama mendadak
hidup kembali dengan begitu nyata. Saya melihat kampus ini sudah banyak
berubah, gedung-gedung semakin megah, fasilitasnya semakin lengkap, namun
"ruh" keilmuannya tetap sama. Kehadiran saya di Munas ini menjadi
ajakan untuk menoleh sejenak pada akar saya, pada tempat yang dulu memberi saya
ruang untuk tumbuh dan berekspresi.
Saat berjalan melewati gedung-gedung tempat dulu
belajar, lorong-lorong yang dulu penuh diskusi, hingga jalan setapak menuju Al
Hurriyah, semuanya terasa seperti menyapa. Saya seperti melihat kembali versi
diri saya yang dulu pernah tumbuh dan berjuang di sini. Reuni ini bukan sekadar
ajang berkumpul, melainkan momen pengingat tentang tanggung jawab moral yang
kini saya emban sebagai seorang alumni.
Sebuah Harapan: Menjemput Langkah S3
Di tengah keriuhan acara Munas, ada satu doa yang
kembali menguat dalam hati saya: Semoga saya bisa kembali lagi ke IPB sebagai
mahasiswa S3. Saya membayangkan diri saya kembali ke laboratorium, ke
perpustakaan LSI, dan ke tengah-tengah masyarakat untuk melakukan riset yang
lebih dalam dan berdampak.
Keinginan ini muncul bukan dari ambisi gelar belaka,
tapi dari kesadaran bahwa masih banyak hal yang ingin saya kontribusikan. Saya
membayangkan bisa duduk kembali beradu argumen dengan para profesor, memperkaya
pemikiran saya, dan menghasilkan karya ilmiah yang bisa menjadi solusi nyata
bagi pembangunan bangsa. Saya memohon semoga Allah memudahkan jalan itu,
membuka pintu kesempatan, dan memberikan kekuatan untuk melangkah lagi di jalur
akademik ini.
Sebab bagi saya, perjalanan menuntut ilmu bukan hanya
soal menambah deretan gelar di belakang nama, tapi soal memperluas manfaat dan
memperdalam pengabdian. Saya percaya bahwa belajar adalah proses seumur hidup,
dan IPB adalah tempat terbaik bagi saya untuk melanjutkan perjuangan
intelektual tersebut demi kemaslahatan yang lebih besar.
Perjalanan yang Belum Usai
Jika saya melihat perjalanan ini sebagai garis lurus,
mungkin akan tampak biasa. Tapi ketika saya melihatnya sebagai rangkaian titik
yang saling terhubung dari pelatihan sederhana, menjadi mahasiswa S2, aktif
organisasi, rutin mengaji di Rabu pagi, hingga hadir di Munas Alumni saya
menyadari satu hal yang fundamental: Allah mengatur setiap pertemuan dan
kejadian dengan sangat indah.
Setiap bab dalam hidup saya di IPB adalah bagian dari
skenario besar yang sedang membentuk masa depan saya. Tidak ada yang sia-sia
dari setiap tetes keringat saat mengerjakan tesis maupun setiap menit yang
dihabiskan untuk merenung di teras masjid. Semuanya menyatu menjadi sebuah
harmoni perjalanan yang penuh hikmah dan pelajaran berharga.
Perjalanan saya bersama IPB belum selesai. Masih ada
harapan, doa, dan langkah-langkah baru yang ingin saya tempuh dengan penuh
semangat. Semoga perjalanan ini terus berlanjut dengan kebaikan yang semakin
luas, dan semoga suatu hari nanti, saya bisa menuliskan bab baru tentang
keberhasilan menyelesaikan jenjang tertinggi di kampus tercinta ini.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar