Jumat, 23 Januari 2026

Reuni 15 Tahun di Hotel Alatas Antara Tonjokan Sayang dan Semangat Desa Iklim



Kadang hidup memang punya cara sendiri buat kasih kejutan. Kemarin niat saya ke Hotel Alatas Tolitoli cuma satu hadir di acara Sosialisasi Program Kampung Iklim ProKlim yang diadakan DLH Provinsi Sulteng. Tapi begitu masuk aula rencana itu buyar seketika. Mata saya tertuju pada satu sosok yang sangat saya kenal.

Beliau adalah Bapak Dr Ir Abd Rauf MS. Memori saya langsung loncat ke belasan tahun lalu ke lorong-lorong Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. Pak Rauf ini dosen pembimbing skripsi saya dulu. Beliau yang kawal langkah awal saya waktu masih jadi mahasiswa yang idealis tapi sebenarnya masih buta soal urusan lapangan.

Coba bayangkan sudah 15 tahun sejak saya lulus kuliah. Kami jalani garis hidup masing-masing dan tiba-tiba bertemu lagi di forum yang sama. Rasanya luar biasa. Sekarang kami bukan lagi duduk sebagai dosen dan mahasiswa yang sedang bimbingan tapi jadi mitra diskusi untuk memikirkan masa depan lingkungan di Sulawesi Tengah. Pertemuan ini bagi saya seperti jawaban atas perjalanan panjang yang sudah saya lalui selama ini.

Mentor Kelas Dunia yang Tetap Membumi

Buat kawan-kawan di dunia pertanian atau riset nama Pak Abd Rauf pasti sudah tidak asing. Beliau punya dedikasi yang ngeri di dunia pendidikan. Kiprahnya tidak main-main sampai ke level internasional lewat FAO Food and Agriculture Organization di bawah PBB. Rekam jejak beliau membuktikan kalau ilmu dari kampus di Sulteng itu bisa mewarnai kebijakan dunia.

Tapi buat saya Pak Rauf bukan cuma soal gelar atau jabatan di PBB. Beliau adalah dosen yang cara mendidiknya sangat kena di hati. Beliau tidak cuma ajarkan rumus atau metode penelitian yang rumit. Beliau ajarkan mental. Saya ingat betul pesannya sarjana pertanian tidak boleh cuma pintar di atas kertas tapi harus tahu betul aroma tanah dan bagaimana rasanya keringat petani di sawah.

Satu hal yang tidak akan pernah saya lupa sampai kapan pun adalah tonjokan sayang beliau. Dulu kalau bimbingan skripsi dan draf saya masih kacau atau kalau saya sudah mulai malas-malasan beliau pasti kasih tonjokan kecil di bahu. Itu cara unik beliau kasih semangat. Rasanya bukan sakit tapi seperti disetrum untuk segera balik ke depan komputer dan selesaikan revisi malam itu juga.

Tonjokan itu bukan sekadar gerakan tangan tapi transfer energi. Itu yang bikin saya kuat lewatkan malam-malam riset di Palu sampai akhirnya bisa lanjut kuliah Magister di IPB University. Tanpa bimbingan keras tapi penuh kasih sayang dari beliau mungkin saya tidak akan punya daya tahan untuk meneliti dinamika kelompok di 12 desa sekitar kampus Bogor dulu.

Dari Skripsi Pindah ke Urusan Mitigasi Iklim

Melihat Pak Rauf masih sangat aktif dan bersemangat di forum ProKlim ini benar-benar jadi tamparan positif buat saya. Beliau tunjukkan kalau ilmu itu tidak ada masa pensiunnya. Kalau sang mentor yang sudah level dunia saja masih mau turun gunung urus desa-desa di Tolitoli dan Buol rasanya malu kalau saya yang lebih muda cuma jadi penonton di pinggir lapangan.

ProKlim yang kami diskusikan di Hotel Alatas ini memang butuh orang-orang seperti beliau. Orang yang cerdas secara akademik tapi mau rendah hati saat bicara dengan masyarakat di tingkat bawah. Perpaduan ilmu agronomi yang beliau ajarkan dulu dengan ilmu penyuluhan pembangunan yang saya pelajari di IPB sekarang menemukan titik temunya. Kita tidak bisa bicara mitigasi iklim kalau tidak sentuh manusianya.

Pertemuan kemarin jadi pengingat keras buat saya. Ilmu yang saya dapat 15 tahun lalu dari beliau tidak boleh menguap begitu saja. Ada beban moral untuk teruskan api semangat beliau. ProKlim di Sulteng harus kita kawal supaya tidak jadi sekadar acara seremonial di hotel. Program ini harus bisa hidupkan kelompok tani perkuat peran ibu-ibu KWT dan bikin desa kita tangguh hadapi cuaca ekstrem.

Penutup: Terus Nyalakan Api Semangat

Sehat selalu Pak Rauf. Terima kasih untuk bimbingannya untuk tonjokan sayangnya dan untuk teladan yang Bapak kasih sampai hari ini. Bertemu Bapak di acara DLH Provinsi ini rasanya seperti dapat baterai baru. Pengabdian Bapak di FAO itu mimpi saya tapi kerja nyata Bapak buat petani lokal itu inspirasi yang paling nyata buat saya.

Perjalanan saya mungkin sudah jauh dari Palu sampai ke Bogor tapi akar ilmu saya tetap ada di Bumi Tadulako lewat bimbingan beliau. Sebagai Ketua DPC HA IPB Buol saya makin merasa punya tugas besar untuk pastikan sinergi antara guru dan murid ini berlanjut jadi aksi nyata di lapangan.

Membangun Desa Iklim itu intinya adalah membangun karakter orang-orang di dalamnya persis seperti Pak Rauf membangun karakter saya 15 tahun lalu. Mari kita tanam masa depan ini sama-sama mulai dari desa untuk Sulawesi Tengah yang lebih tangguh dan sejahtera.

Nah itu tadi sedikit cerita reuni saya di sela acara ProKlim kemarin. Bertemu Pak Rauf mengingatkan saya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari bimbingan dan kolaborasi yang kuat. Kalau teman-teman sendiri siapa sosok mentor atau dosen yang paling berkesan dan punya cara unik saat mendidik kalian dulu. Dan menurut Bapak Ibu tantangan apa yang sebenarnya paling berat dihadapi desa kita saat ini agar benar-benar tangguh terhadap perubahan iklim. Mari kita bernostalgia sekaligus berdiskusi di kolom komentar ya.

 

Rabu, 21 Januari 2026

Istriku Dilantik sebagai PPPK Paruh Waktu: Sebuah Langkah Baru dalam Pengabdian

 


Hari ini menjadi salah satu catatan sejarah yang akan selalu kami simpan dalam memori perjalanan keluarga kami. Di bawah langit Kabupaten Tolitoli, tepatnya di halaman Kantor Bupati Kabupaten Tolitoli yang khidmat, saya menyaksikan istri saya resmi mengambil sumpah dan dilantik sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu. Momen ini bukan sekadar perubahan status kepegawaian dari tenaga honorer menjadi aparatur sipil, melainkan sebuah amanah baru yang menandai fase pengabdian yang lebih matang dan terstruktur dalam hidupnya.

Sebagai suami, ada rasa haru yang sulit digambarkan saat melihatnya berdiri tegap mengenakan seragam kebanggaan di antara barisan rekan sejawatnya di tengah lapangan upacara. Ini adalah jawaban dari banyak doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, serta buah dari usaha yang tak kenal lelah di tengah kesibukan mengurus rumah tangga yang sering kali menyita waktu dan pikiran. Melihatnya melangkah maju di halaman kantor bupati untuk menerima SK pelantikan adalah pengingat nyata bagi saya bahwa setiap perjuangan yang dilakukan dengan sabar, ikhlas, dan konsisten pasti akan membuahkan hasil yang manis pada waktunya.

Momen ini juga terasa begitu spesial karena menjadi titik balik setelah sekian lama ia mendedikasikan diri dalam ketidakpastian status. Ada pancaran kebahagiaan yang berbeda di wajahnya hari ini, sebuah binar mata yang menceritakan tentang harapan baru untuk masa depan keluarga kami dan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat. Pelantikan ini bagi kami adalah simbol dari sebuah kehormatan yang diberikan negara atas dedikasi yang telah ia tanamkan selama bertahun-tahun di bidang kesehatan, khususnya bagi warga di bumi cengkeh, Tolitoli..

Sebuah Proses yang Tidak Sekadar Formalitas

Pelantikan PPPK ini bukanlah sebuah seremoni yang datang begitu saja dari langit. Di balik senyum syukur hari ini, ada deretan panjang perjuangan yang menguji batas kesabaran, komitmen, dan kesiapan mental kami sekeluarga. Kami masih ingat betul bagaimana hiruk-pikuk persiapan administrasi, ketegangan saat memantau seleksi berkas, hingga momen-momen menunggu pengumuman yang menguras energi emosional di tengah ketidakpastian regulasi yang dinamis. Setiap tahapan seleksi adalah ujian daya tahan, di mana harapan dan kecemasan sering kali datang silih berganti.

Proses ini adalah guru yang mengajarkan kami tentang arti ketenangan dan keyakinan bahwa hasil terbaik akan selalu datang tepat pada waktunya. Hadirnya formasi PPPK paruh waktu ini memberikan ruang yang sangat berarti, terutama bagi mereka yang ingin tetap mengabdi secara profesional namun tetap memiliki ruang untuk menyeimbangkan peran di dalam keluarga. Inilah yang membuat formasi ini begitu istimewa, sebuah keadilan bagi para abdi negara yang juga merupakan pilar utama di rumah mereka masing-masing, sehingga tugas negara dan tugas rumah tangga tidak perlu ada yang dikorbankan.

Lebih jauh lagi, skema paruh waktu ini merupakan bentuk pengakuan negara atas dedikasi mereka yang telah lama mengabdi namun terkendala oleh keterbatasan formasi penuh waktu. Ini adalah jalan tengah yang bijak, memberikan kepastian hukum dan kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan masa-masa sebelumnya. Bagi kami, ini bukan sekadar tentang angka di atas kertas gaji, melainkan tentang ketenangan jiwa dalam bekerja dan pengakuan atas eksistensi profesi yang selama ini dijalani dengan penuh keterbatasan.

Makna Pengabdian di Koridor RSUD Mokopido

Menjadi seorang Bidan di RSUD Mokopido Kabupaten Tolitoli memiliki dinamika tersendiri yang tidak semua orang pahami. Rumah sakit ini bukan sekadar tempat kerja bagi istri saya, melainkan saksi bisu betapa kerasnya perjuangan tenaga kesehatan di garda terdepan pelayanan publik di daerah. Melayani ibu hamil, membantu proses persalinan yang terkadang penuh risiko, hingga memastikan bayi lahir dengan selamat adalah tugas-tugas yang menuntut kesiagaan penuh, baik fisik maupun empati yang mendalam di setiap detik penugasan.

Setiap lorong di RSUD Mokopido menyimpan cerita tentang perjuangan antara hidup dan mati, dan di sanalah istri saya mengambil peran. Status PPPK paruh waktu ini tidak sedikit pun mengurangi bobot tanggung jawab tersebut. Profesionalisme baginya bukan tentang berapa jam ia berada di bangsal rumah sakit, melainkan tentang kualitas sentuhan dan perawatan yang ia berikan kepada masyarakat Tolitoli. Ada tanggung jawab moral yang melekat pada setiap tindakan medis, ada masyarakat yang menaruh harapan besar pada pundaknya, dan ada niat baik yang kini memiliki wadah legal yang lebih terstruktur.

Kami percaya bahwa pengabdian tidak harus selalu bersifat full-time untuk menjadi berdampak. Yang utama adalah kemanfaatan yang dirasakan oleh sesama. Di tengah keterbatasan tenaga medis yang sering terjadi di daerah, kontribusi sekecil apa pun dari seorang bidan yang bekerja dengan hati akan sangat berarti bagi keberlangsungan hidup generasi masa depan Tolitoli. Bekerja paruh waktu justru memberinya kesempatan untuk tetap memberikan performa terbaik tanpa harus kehilangan momen berharga dalam mengasuh anak-anak di rumah.

Makna Profesionalisme dalam Profesi Kesehatan

Dalam kacamata kami, profesionalisme bukan hanya tentang status pekerjaan atau seragam yang dikenakan, tetapi tentang nilai-nilai kemanusiaan yang dibawa saat menjalankan tugas. Menjadi bagian dari tenaga pelayanan kesehatan melalui skema PPPK memiliki arti tersendiri bagi seorang bidan. Ada etika profesi yang harus dijunjung tinggi dan ada standar pelayanan yang harus dipenuhi demi keselamatan pasien. Istri saya menyadari bahwa setiap diagnosa dan tindakan yang diambil adalah pertanggungjawaban dunia dan akhirat.

Mengabdi dalam porsi paruh waktu justru memberikan kesempatan bagi istri saya untuk tetap segar secara mental saat turun ke lapangan. Dengan waktu yang lebih fleksibel, ia dapat mengelola energi dengan lebih baik, sehingga setiap pasien yang ia tangani di RSUD Mokopido mendapatkan perhatian yang optimal. Inilah esensi dari pelayanan publik yang sesungguhnya: memberikan yang terbaik dengan sumber daya yang ada untuk kemaslahatan orang banyak, tanpa mengabaikan kesehatan mental dan keseimbangan hidup pribadi sang pemberi layanan.

Lebih dari itu, status ini juga memotivasi dirinya untuk terus meningkatkan kompetensi. Dunia kebidanan terus berkembang, dan menjadi bagian dari ASN (Aparatur Sipil Negara) menuntutnya untuk terus memperbarui ilmu pengetahuan demi pelayanan yang lebih aman dan modern. Profesionalisme adalah perjalanan belajar yang tiada henti, dan pelantikan hari ini adalah pintu masuk menuju level kompetensi yang lebih tinggi lagi.

Doa dan Harapan di Balik Seragam Baru

Bagi kami, merayakan hari pelantikan ini tidak harus dengan kemewahan yang berlebihan. Rasa syukur kami tumpahkan dalam doa-doa sederhana namun mendalam yang dipanjatkan bersama keluarga kecil kami di rumah. Kami sangat bersyukur karena amanah ini datang di waktu yang tepat, saat kami juga sedang belajar untuk terus bertumbuh dan mandiri. Amanah ini bukan hanya membuka pintu rezeki yang baru, tetapi juga menyuntikkan energi positif bagi kami untuk terus memberikan yang terbaik bagi lingkungan sekitar.

Harapan saya sebagai suami untuk langkahnya ke depan sangatlah sederhana namun prinsipil:

  1. Semoga setiap tugas yang ia jalankan di RSUD Mokopido selalu berlandaskan ketulusan hati, menjadikannya bidan yang tidak hanya terampil secara teknis tapi juga lembut dalam pelayanan.
  2. Semoga setiap lelahnya saat menolong persalinan atau merawat pasien di jam-jam yang melelahkan menjadi keberkahan yang mengalir bagi keluarga dan masyarakat luas.
  3. Semoga Allah mempermudah segala tanggung jawabnya, menjauhkannya dari segala marabahaya saat bertugas, dan menjadikan setiap peluhnya bernilai ibadah yang diterima.

Dalam dunia kesehatan, setiap detik pelayanan adalah bentuk nyata dari panggilan kemanusiaan yang luhur. Maka, setiap tugas yang dijalankan bukan lagi sekadar soal pekerjaan demi materi, melainkan tentang menjawab panggilan Tuhan untuk menolong sesama makhluk-Nya. Pekerjaan ini adalah jembatan kebaikan yang kami harap dapat menuntun keluarga kami menuju keberkahan hidup yang hakiki.

Penutup: Awal dari Perjalanan Panjang

Pelantikan hari ini di halaman Kantor Bupati Kabupaten Tolitoli bukanlah garis finis atau akhir dari sebuah perjuangan panjang yang melelahkan. Sebaliknya, ini adalah garis start dari sebuah perjalanan baru yang jauh lebih menantang dan penuh warna. Tugas-tugas yang telah menanti di RSUD Mokopido akan menjadi ladang pengabdian yang luas sekaligus ruang bagi istri saya untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan mendewasakan diri dalam profesinya sebagai bidan yang berdedikasi tinggi.

Kami menyadari bahwa ke depan mungkin akan ada tantangan baru, kelelahan baru, dan dinamika pekerjaan yang lebih kompleks seiring dengan perkembangan regulasi kesehatan. Namun, dengan status baru sebagai PPPK paruh waktu, kami melangkah dengan pondasi yang lebih kuat dan hati yang lebih tenang. Kami percaya bahwa amanah yang datang tidak pernah salah alamat, dan setiap langkah yang diniatkan untuk kebaikan pasti akan menemui jalannya sendiri melalui pertolongan-Nya.

Alhamdulillah, hari ini benar-benar menjadi hari yang baik untuk kami semua. Semoga langkah-langkah setelah ini juga selalu dipenuhi dengan kebaikan, kemudahan, dan keberkahan yang sama. Selamat bertugas untuk istriku tercinta, selamat mengabdi untuk tanah Tolitoli melalui RSUD Mokopido. Teruslah menjadi cahaya bagi ibu dan bayi yang membutuhkan tangan dinginmu.

 

Minggu, 04 Januari 2026

Pulang ke Diri Sendiri Sebuah Proklamasi Kemerdekaan Jiwa

 

Catatan Penulis: Tulisan ini adalah ruang jujur bagi saya untuk mencatat sebuah perjalanan pulang menuju diri sendiri. Tidak ada sedikit pun niat untuk mengecilkan ketulusan atau menyalahkan pihak mana pun yang pernah hadir dalam sejarah hidup saya. Sebaliknya, saya memandang setiap sosok di masa lalu sebagai guru-guru terbaik yang diutus Tuhan untuk membentuk saya hari ini. Ini adalah tentang cara saya bertumbuh, bukan tentang menghakimi masa lalu.

 

Perjalanan Pulang yang Sunyi

Belakangan ini, saya sering memilih diam. Bukan diam karena kelelahan, melainkan diam yang disengaja, sebuah keheningan yang saya rawat dengan sadar. Dalam sunyi itulah saya mulai berani mendengar suara yang selama ini tertimbun oleh kebisingan dunia, yaitu suara diri sendiri. Suara yang tidak pernah berteriak, tetapi setia menunggu untuk diakui.

Menoleh ke belakang kini tidak lagi menghadirkan sesak di dada. Tidak ada dorongan untuk membela diri, apalagi menyalahkan keadaan. Saya mulai memahami bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mengejar kita; kitalah yang sering terus berlari darinya. Ketika keberanian untuk berhenti akhirnya hadir, saya justru menemukan bahwa yang menunggu di belakang bukan ancaman, melainkan pemahaman.

Saya sampai pada satu kesadaran mendasar bahwa hidup bukanlah tentang menumpuk pencapaian, melainkan tentang keberanian menanggalkan lapisan-lapisan palsu yang kita kenakan demi diterima. Perjalanan pulang adalah proses melepaskan, bukan menambah. Ia tidak ramai, tidak heroik, dan sering kali tidak dipahami orang lain. Namun, justru di situlah letak kemurniannya.

Menerima seluruh sejarah hidup tanpa syarat adalah bentuk kedewasaan tertinggi yang pernah saya rasakan. Tidak ada satu pun fragmen masa lalu yang ingin saya hapus, bahkan yang paling getir. Luka-luka yang dulu ingin saya sembunyikan kini saya pandang sebagai penanda jalan. Tanpa semuanya itu, saya mungkin tidak pernah belajar membedakan mana yang sekadar ambisi dan mana yang benar-benar panggilan jiwa.

Saya akhirnya memahami bahwa Tuhan tidak pernah ceroboh dalam menyusun skenario hidup. Kegagalan yang terasa memalukan, kehilangan yang menyisakan kehampaan, dan jalan buntu yang memaksa saya berhenti, semuanya adalah ruang pendidikan batin. Kerumitan itu hadir bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk melunakkan.

Kini saya memandang masa lalu sebagai fondasi yang kokoh. Luka-luka itu tidak lagi saya anggap cacat, melainkan tanda bahwa saya pernah hidup, pernah berjuang, dan pernah belajar. Dari sanalah jiwa bertumbuh, bukan menjadi keras, melainkan menjadi jujur.

Berdamai dengan Dinamika Masa Lalu

Kemerdekaan jiwa tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari keberanian menatap diri apa adanya, tanpa topeng dan tanpa pembenaran. Kejujuran ini tidak selalu nyaman. Ada rasa pahit yang harus ditelan ketika saya menyadari bahwa sebagian ketakutan saya selama ini bukan disebabkan oleh keadaan sekarang, melainkan oleh luka lama yang belum selesai.

Saya mengakui bahwa pernah ada fase ketika rasa aman semu saya anggap sebagai cinta. Perhatian yang berlebihan dulu terasa menenangkan, padahal di dalamnya terselip ketergantungan yang tidak sehat. Saya tumbuh dengan keyakinan bahwa keselamatan hanya bisa diraih jika ada figur yang terus mengawasi dan melindungi.

Seiring waktu, saya belajar bahwa kasih sayang sejati justru memberi ruang. Cinta yang matang tidak mencengkeram, tidak mengatur napas orang lain, dan tidak menjadikan rasa takut sebagai alat pengikat. Ia mempercayai proses, bahkan ketika proses itu tampak rapuh.

Saya menyadari bahwa selama bertahun-tahun saya membawa kecemasan yang bukan milik masa kini. Itu hanyalah gema dari masa kecil, sebuah upaya terus-menerus untuk merasa layak dan diakui. Tanpa sadar, saya menggantungkan harga diri pada penilaian orang lain, seolah kebahagiaan harus selalu mendapatkan stempel persetujuan.

Pengakuan ini tidak saya buat untuk meratapi nasib atau membuka kembali luka lama. Ini adalah upaya sadar untuk menghentikan siklus. Saya tidak ingin mewariskan kegelisahan yang sama kepada anak-anak saya. Saya ingin mereka tumbuh dengan keberanian menjadi diri sendiri, bukan sebagai replika dari harapan orang lain.

Berdiri Tegak di Atas Kaki Sendiri

Hari ini saya memilih berdiri sebagai pria dewasa, suami, dan ayah dengan tanggung jawab penuh atas dunia batin saya sendiri. Saya berhenti mencari pengganti luka lama dalam relasi apa pun, baik dalam pernikahan, persahabatan, maupun dunia profesional. Tidak adil menuntut orang lain menyembuhkan sesuatu yang bahkan belum saya pahami sepenuhnya.

Saya belajar bahwa mencintai dengan sehat hanya mungkin dilakukan ketika saya tidak lagi menagih. Memberi tanpa tuntutan hanya bisa lahir dari jiwa yang tidak lagi merasa kekurangan. Melepaskan ekspektasi tersembunyi justru membuat relasi menjadi lebih jujur dan lapang.

Kemandirian emosional juga berarti berani melepaskan ketergantungan pada figur patron. Saya tidak lagi menggantungkan harga diri pada kedekatan dengan tokoh tertentu atau pada pengaruh struktural. Prinsip harus berdiri di atas kebenaran, bukan pada rasa sungkan atau balas budi yang membungkam suara hati.

Saya sampai pada kesimpulan yang tegas bahwa tidak ada karier, jabatan, atau pengakuan yang layak dibayar dengan rusaknya ketenangan jiwa dan keharmonisan keluarga. Integritas batin bukan sekadar nilai moral, melainkan kebutuhan eksistensial. Tanpanya, semua pencapaian hanya akan terasa kosong.

Bergerak dalam Ritme Ketenangan

Hidup saya kini tidak lagi digerakkan oleh rasa takut. Saya menyadari bahwa rasa takut adalah mesin yang boros energi dan miskin makna. Ia mendorong kita bergerak cepat, tetapi sering kali menjauh dari arah yang benar.

Jika kini saya menolong atau memberi, itu bukan karena rasa terancam atau takut kehilangan relasi. Saya ingin setiap kebaikan lahir dari kebebasan, bukan dari tekanan emosional. Dengan cara itu, memberi tidak lagi menguras, melainkan menguatkan.

Saya berhenti menjadikan hidup sebagai arena perlombaan. Setiap orang memiliki lintasan dan waktu masing-masing. Keyakinan bahwa rezeki tidak akan tertukar membuat saya bisa melangkah tanpa iri dan tanpa tergesa.

Dalam ketenangan, saya belajar mendengar. Keputusan besar tidak lagi saya ambil dalam kondisi batin yang gaduh. Saya percaya bahwa sesuatu yang benar tidak perlu dikejar dengan panik. Jika sebuah pencapaian menuntut pengorbanan jiwa yang terlalu mahal, maka ia layak untuk ditinggalkan.

Menumbuhkan Tanpa Harus Menguasai

Orientasi hidup saya kini berubah secara mendasar. Fokus saya bukan lagi ingin menjadi siapa, melainkan bagaimana kehadiran saya membawa manfaat. Sebagai pendidik dan pendamping, saya sadar bahwa peran saya bukan membentuk orang lain sesuai bayangan saya, melainkan menemani mereka menemukan jalannya sendiri.

Saya ingin membangun relasi yang memberdayakan, bukan menciptakan ketergantungan. Kasih sayang yang tidak memiliki batasan justru mudah berubah menjadi kontrol. Saya belajar membedakan antara mendampingi dan menguasai.

Keberhasilan tertinggi bukan ketika orang lain terus membutuhkan saya, melainkan ketika mereka mampu berdiri tegak dengan kesadaran penuh. Saat itulah saya tahu bahwa cinta telah bekerja dengan benar.

Rezeki dan Kedaulatan Jiwa yang Utuh

Saya semakin yakin bahwa rezeki yang berkah selalu berjalan seiring dengan ketenangan batin. Ambisi yang memaksa hanya akan melahirkan kelelahan yang tidak perlu. Karya yang hidup lahir dari jiwa yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri.

Saya tidak lagi menggantungkan nasib pada jaringan, faksi, atau figur besar. Allah menolong bukan karena siapa yang saya dekati, melainkan karena kejujuran dan ketulusan dalam menjalani amanah. Dari sanalah kedaulatan jiwa tumbuh.

Bekerja dari ruang yang penuh membuat saya tidak mudah goyah oleh perbandingan sosial. Saya berkarya karena cinta, bukan karena ingin menambal harga diri. Dari situ, hidup terasa lebih ringan dan lebih jernih.

Pertanyaan Terakhir sebagai Filter Jiwa

Kini hidup saya bukan lagi panggung pembuktian. Tepuk tangan tidak lagi menjadi tujuan. Setiap keputusan besar saya hadapkan pada satu pertanyaan penentu:

“Apakah langkah ini menenangkan jiwa, menguatkan keluarga, dan bermakna di hadapan Tuhan?”

Jika jawabannya tidak, saya berhak berkata tidak tanpa rasa bersalah dan tanpa ketakutan akan kehilangan. Saya lebih memilih kehilangan kesempatan di mata dunia daripada kehilangan keutuhan diri.

Di penghujung perjalanan nanti, saya hanya menginginkan satu hal, yaitu pulang dengan jiwa yang tenang, nafsul mutmainnah. Menjadi utuh adalah tugas suci saya, dan saya memilih setia pada jalan kemerdekaan ini hingga akhir hayat.

Reuni 15 Tahun di Hotel Alatas Antara Tonjokan Sayang dan Semangat Desa Iklim

Kadang hidup memang punya cara sendiri buat kasih kejutan. Kemarin niat saya ke Hotel Alatas Tolitoli cuma satu hadir di acara Sosialisasi P...