Senin, 31 Agustus 2026

Satu Tim, Ribuan Cerita: Dinamika PML, PCL, dan Pendamping BPS di Sensus Ekonomi 2026

 

Jika ada satu hal yang paling saya syukuri dari gelaran Sensus Ekonomi 2026 di Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, itu adalah orang-orang yang berjalan di samping saya. Di balik ratusan data responden yang terisi di aplikasi FASIH dan setiap peta wilayah yang berhasil disisir, ada sebuah mesin kecil yang bergerak tanpa henti. Mesin itu adalah kolaborasi erat antara Petugas Pencacah Lapangan (PCL), Pemeriksa Lapangan (PML), dan para Pendamping dari ASN BPS Kabupaten Tolitoli.

Menghadapi medan Baolan yang begitu dinamis, bergerak sendirian tentu sebuah ketidakmungkinan. Karakteristik wilayah tugas kami sangat beragam, mulai dari padatnya pemukiman warga di Kelurahan Tuweley hingga deretan pertokoan dan pusat aktivitas ekonomi di Kelurahan Baru. Setiap sudut jalan membawa tantangan unik tersendiri yang menuntut kejelian serta kesabaran ekstra.

Tantangan tersebut terasa makin nyata saat kami menyisir sudut-sudut menantang di Kelurahan Nalu. Di sana, kami harus menjangkau area pemukiman warga pemulung di sekitar TPA, kompleks perumahan dinas RRI, hingga gubuk-gubuk warga yang berdiri terisolasi di atas gunung dan pinggiran hutan. Keragaman medan ini menjadikan setiap langkah kaki penuh dengan kalkulasi keselamatan dan strategi komunikasi yang pas.

Kehadiran tim inilah yang mengubah setiap petualangan berat dan melelahkan di lapangan menjadi rentetan cerita berharga. Kebersamaan, saling percaya, dan dukungan tanpa henti di antara kami membuat tugas besar ini terasa lebih ringan dan layak untuk dikenang sepanjang hayat.

Peran Komando dan Pengawal Kualitas: PML dan Pendamping BPS

Sebagai PCL yang berada di garis paling depan, mengetuk pintu rumah warga dan berhadapan langsung dengan beragam karakter masyarakat adalah pekerjaan yang menguras energi fisik maupun pikiran. Di titik-titik krusial itulah, peran Pemeriksa Lapangan (PML) dan Pendamping ASN BPS menjadi benteng pertahanan utama kami ketika menemui jalan buntu.

Ibu Sri Wahyuni Syarifudin selaku PML kami adalah sosok pengawal kualitas yang luar biasa sabar. Beliau memastikan setiap angka, kode, dan rincian usaha yang kami kumpulkan berdiri di atas akurasi yang presisi. Namun lebih dari sekadar tugas profesional, beliau adalah tempat saya "mengadu" saat dihinggapi keraguan di lapangan. Jujur saja, rasa sungkan sering kali menghampiri karena saya berulang kali mengetuk pintu rumah beliau tanpa kenal waktu. Entah itu pagi-pagi sekali sebelum melangkah ke lokasi, siang hari di sela jam istirahat, hingga larut malam ketika ingatan pencatatan hari itu masih segar di kepala. Rasanya tidak enak hati karena terus-menerus menyita waktu istirahat beliau dan keluarga.

Namun, Ibu Sri selalu menyambut dengan wajah tenang dan pintu yang terbuka lebar. Dengan teliti beliau membantu memecahkan kerumitan klasifikasi usaha informal pemulung di sekitar TPA Nalu, memverifikasi ulang batas RT di pemukiman padat Kelurahan Baru, hingga dengan sabar melayani tumpukan permintaan re-edit (reged) dokumen yang tidak sedikit. Semua itu beliau jalani tanpa raut lelah demi satu tujuan: memastikan kualitas data dari tim kami benar-benar sempurna.

Sementara itu, kehadiran para pendamping dari ASN BPS Kabupaten Tolitoli, yaitu Mas Rio Oloan dan Mbak Laila Fakarisma, menyuntikkan rasa aman dan rasa percaya diri yang tinggi bagi kami para pendata. Di lapangan, situasi tidak selalu mulus. Ketika tim kami tertahan oleh penolakan keras warga yang emosional akibat salah paham isu bantuan sosial, atau saat kami harus melangkah masuk ke pemukiman di atas gunung yang jalurnya terisolasi, Mas Rio dan Mbak Laila sering kali turun tangan langsung mendampingi. Pendekatan kelembagaan dan komunikasi taktis yang mereka bawakan ampuh mencairkan suasana yang tegang. Mereka pasang badan, meyakinkan warga dengan tutur kata yang menenangkan, serta menjelaskan dengan gamblang bahwa data yang kami kumpulkan adalah pijakan penting bagi arah pembangunan daerah mereka sendiri.

Saling Penopang di Antara Anggota Tim

Menyusuri setiap sudut Baolan juga mengajarkan kami arti penting solidaritas antaranggota tim. Di kelurahan dan RT lainnya, ada rekan-rekan seperjuangan seperti Septiyadi, Reza, Hartina, Afifah Tri Humairah, dan Nuri Nurhasanah yang terus bergerak pantang menyerah menyisir setiap jengkal wilayah tugas mereka masing-masing.

Meskipun kami disebar di blok sensus yang berbeda, kami tidak pernah benar-benar merasa berjuang sendirian. Lewat grup koordinasi, kami saling menopang dan membagi beban. Saat kaki melangkah ragu di jalan setapak licin menuju lereng gunung, atau ketika adrenalin memuncak akibat mendadak dikerumuni anjing penjaga milik warga, pesan dan panggilan dari rekan-rekan menjadi penawar cemas. Kami saling mengingatkan untuk menjaga keselamatan, memberi petunjuk rute teraman, hingga saling bertukar kabar cuaca saat langit Tolitoli tiba-tiba berubah dari panas terik menjadi hujan deras yang mengguyur deras.

Saat lelah mulai menumpuk di penghujung hari, kami berkumpul bersama Septiyadi, Reza, Hartina, Afifah, dan Nuri di warkop langganan. Kebersamaan itu kemudian berlanjut ke ruang kerja kelompok di kantor BPS Kabupaten Tolitoli. Di sanalah, di antara tumpukan berkas dan aroma kopi yang membumbung, kami menumpahkan semua "drama" dan dinamika lapangan. Kami tertawa bersama mengenang respons warga yang polos atau unik, saling bertukar tips menghadapi responden yang sulit ditemui, hingga duduk berdampingan mengevaluasi isian kuesioner sebelum akhirnya kami serahkan ke meja pemeriksaan Ibu Sri Wahyuni Syarifudin.

Sinergi untuk Data yang Berkualitas

Sensus Ekonomi 2026 pada akhirnya bukan sekadar tentang mengejar target hitungan data, melainkan tentang bagaimana sebuah tim besar melangkah dan bernapas dalam satu irama. Mas Rio Oloan dan Mbak Laila Fakarisma dari BPS hadir memberikan jaminan kualitas serta pengayoman, Ibu Sri Wahyuni Syarifudin mengawal ketelitian dengan kesabaran yang tak terbatas, sementara Septiyadi, Reza, Hartina, Afifah, Nuri, dan saya sendiri berdiri sebagai ujung tombak yang menyerap denyut realita di akar rumput.

Ikatan yang tumbuh di antara kami telah melampaui sekat-sekat hubungan kerja formal. Kami ditempa oleh terik dan debu jalanan Baolan, disatukan oleh rasa lelah yang sama, dan dikuatkan oleh satu tekad yang bulat: mempersembahkan data Tolitoli yang paling jujur, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dari deretan pertokoan di pusat kota hingga gubuk-gubuk sunyi di pinggiran hutan, kami telah membuktikan satu hal: ketika sebuah tim bergerak dengan fondasi rasa saling percaya, komitmen tinggi, dan kepedulian yang tulus, tidak ada medan di lapangan yang terlalu berat untuk ditaklukkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Satu Tim, Ribuan Cerita: Dinamika PML, PCL, dan Pendamping BPS di Sensus Ekonomi 2026

  Jika ada satu hal yang paling saya syukuri dari gelaran Sensus Ekonomi 2026 di Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, itu adalah orang-oran...