Minggu, 30 Agustus 2026

Sensus Ekonomi 2026: Pengalaman Unik Menjadi “Pejuang Data” di Tolitoli


Menjadi petugas Sensus Ekonomi 2026 di Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, ternyata jauh melebihi apa yang saya bayangkan saat pertama kali menerima penugasan. Di atas kertas, tugas ini tampak sederhana: membawa peta, mengecek identitas, mengisikan formulir, dan memenuhi kuota pencatatan harian. Namun, begitu roda motor berhenti di lokasi pertama dan kaki mulai melangkah, saya sadar bahwa ini bukan sekadar urusan administratif. Tugas ini adalah sebuah petualangan sosial yang intens, sebuah perjalanan menyusuri denyut nadi kehidupan warga yang paling asli, mulai dari deru pusat perkotaan hingga keheningan di balik rimbunnya lereng gunung.

Peta wilayah tugas saya memiliki wajah yang sangat kontras. Di satu sisi, ada Kelurahan Tuweley (RT 01 RW 02) yang riyuh oleh aktivitas pemukiman padat dan usaha mandiri, serta kawasan perkotaan Kelurahan Baru (RT 05 RW 05 dan RT 01 RW IX) yang riuh oleh deretan pertokoan, SPBU Pertamina, bengkel, dan hilir mudik kendaraan. Di sini, tantangannya adalah ritme hidup warga yang cepat dan mobilitas yang tinggi. Namun, ujian sesungguhnya baru dimulai ketika saya melangkah ke Kelurahan Nalu (RT 01 RW 01).

Di Nalu, lanskap wilayah mendadak berubah drastis dan terbagi menjadi beberapa wilayah yang bertolak belakang. Di satu sudut berdiri kompleks perumahan dinas RRI yang rapi dan tenang. Di sudut lain, bau menyengat dan kepulan asap tipis menyambut saya di area pemukiman warga pemulung sekitar TPA, tempat belasan keluarga mengadu nasib dari barang bekas. Lalu, jika menengadah ke arah bukit, tampak gubuk-gubuk warga yang berdiri terisolasi di atas gunung dan pinggiran hutan, jauh dari keramaian kota.

Dikejar Anjing, Jalan Licin, hingga Luapan Emosi Warga

Berada di garis depan pendataan berarti harus siap berkompromi dengan kejutan lapangan yang tak ada di dalam buku panduan. Medan ekstrem sudah jadi makanan sehari-hari. Kaki ini harus terbiasa menapak jalan setapak yang licin, berbatu, dan menanjak tajam menuju pemukiman di atas gunung. Tak jarang motor harus dititipkan di rumah warga terluar, lalu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus vegetasi hutan yang rapat di bawah terik matahari Tolitoli yang menyengat.

Belum lagi urusan adrenalin terkait "penjaga wilayah". Tak terhitung berapa kali jantung ini berdegup kencang gara-gara tiba-tiba dikerumuni dan dikejar anjing penjaga milik warga. Dalam situasi begitu, panik dan berlari adalah kesalahan fatal. Pilihan terbaik hanyalah berdiri mematung, mengatur napas, sambil berharap sang pemilik rumah segera keluar memanggil peliharaannya.

Namun, jika jujur pada diri sendiri, lelah fisik dan trauma dikejar anjing tidak ada apa-apanya dibanding ujian mental saat mengetuk pintu rumah warga. Tidak sedikit yang menyambut saya dengan muka masam, lipatan dahi yang dalam, bahkan amarah yang membuncah begitu melihat atribut pendataan.

"Untuk apa didata-data lagi, Pak? Sudah capek kami diwawancarai dari tahun ke tahun, difoto rumahnya, tapi bantuan pemerintah tidak pernah sampai ke sini!" cetus seorang warga dengan nada tinggi, matanya menatap tajam penuh prasangka.

Di saat seperti itu, rasanya ingin sekali berbalik arah. Tapi saya paham, kekecewaan mereka memiliki akar yang dalam. Mereka merasa sering dijadikan objek pendataan tanpa pernah merasakan dampak langsungnya. Dengan pelan, tanpa memotong pembicaraan, saya menatap mata mereka dan mencoba memberi pengertian dengan kepala dingin.

Saya jelaskan bahwa Sensus Ekonomi ini berdiri dipijakan yang berbeda dari pendataan bantuan sosial atau program kemiskinan. Kami hadir bukan untuk membagi bansos, melainkan memotret gambaran utuh roda ekonomi daerah, mulai dari usaha mikro hingga industri, agar kebijakan pembinaan usaha, perizinan, hingga infrastruktur perdagangan yang diambil pemerintah ke depan bisa lebih tepat sasaran. Membutuhkan waktu, energi, dan bahasa yang membumi untuk menyampaikan hal tersebut. Namun ketika penjelasan itu disampaikan secara tulus, perlahan ketegangan di wajah mereka mulai mencair, berganti dengan kesediaan untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan.

Segelas Kopi, Obrolan Teras, dan Saudara Baru di Setiap Sudut Jalan

Di balik sengatan terik, jalanan terjal, dan dinginnya penolakan awal, selalu ada penawar lelah yang tak ternilai harganya. Bagaimanapun, jumlah warga yang menyambut hangat jauh lebih dominan daripada yang menolak. Pintu-pintu rumah kayu sederhana sering kali terbuka lebar bahkan sebelum saya mengetuknya, diiringi senyum tulus dan sapaan ramah yang meluluhkan rasa lelah.

"Singgah dulu, Pak. Istirahat sebentar, minum kopi hangat dulu," ujar seorang ibu di lereng gunung sambil menyodorkan piring berisi cangkir teh dan pisang goreng seadanya.Dari teras

rumah warga yang sederhana di Tuweley, obrolan santai di sela tumpukan kardus bekas bersama para pemulung di TPA Nalu, hingga duduk bersandar di tiang kayu rumah dinas RRI, saya menyadari satu hal penting: masyarakat Tolitoli memiliki ruang hospitality yang luar biasa besar. Mereka mau berbagi kisah tentang bagaimana usaha kecil mereka bertahan, bagaimana harga komoditas berpengaruh pada dapur mereka, hingga harapan-harapan sederhana agar anak-anak mereka bisa bersekolah lebih tinggi.

Tugas lapangan ini pada akhirnya melampaui sekat-sekat status sosial. Saya bisa berbincang akrab dengan siapa saja, dari pegawai instansi pemerintah hingga pejuang rupiah di garis paling bawah yang sering terlupakan. Pendataan ini tidak lagi terasa seperti wawancara kaku, melainkan ruang silaturahmi yang memanusiakan.

Kini, periode pendataan lapangan mungkin akan segera usai dan berkas-berkas dokumen akan segera diolah secara digital. Namun, ikatan emosional yang terbangun di lapangan tidak serta-merta menguap. Saat melintas di jalanan Baolan untuk urusan pribadi, selalu saja ada sapaan hangat dari pinggir jalan, lambaian tangan dari atas motor, atau candaan ringan dari warga yang pernah saya data. "Eh, Pak Sensus! Kopi di rumah belum habis, mampir lagi!" teriak salah seorang warga yang saya temui di pasar.

Menjadi “Pejuang Data” di Sensus Ekonomi 2026 mengajarkan saya arti kesabaran, empati, dan keikhlasan yang sesungguhnya. Di balik setiap lembar kertas kuisioner yang terisi dan setiap angka statistik yang nantinya terbit di laporan resmi, ada kisah perjuangan, ketangguhan, harapan, dan keringat nyata warga Tolitoli yang sangat layak untuk dicatat dan diperjuangkan.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Satu Tim, Ribuan Cerita: Dinamika PML, PCL, dan Pendamping BPS di Sensus Ekonomi 2026

  Jika ada satu hal yang paling saya syukuri dari gelaran Sensus Ekonomi 2026 di Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, itu adalah orang-oran...