Menjadi petugas
Sensus Ekonomi 2026 di Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, ternyata jauh
melebihi apa yang saya bayangkan saat pertama kali menerima penugasan. Di atas
kertas, tugas ini tampak sederhana: membawa peta, mengecek identitas,
mengisikan formulir, dan memenuhi kuota pencatatan harian. Namun, begitu roda
motor berhenti di lokasi pertama dan kaki mulai melangkah, saya sadar bahwa ini
bukan sekadar urusan administratif. Tugas ini adalah sebuah petualangan sosial
yang intens, sebuah perjalanan menyusuri denyut nadi kehidupan warga yang
paling asli, mulai dari deru pusat perkotaan hingga keheningan di balik
rimbunnya lereng gunung.
Peta wilayah
tugas saya memiliki wajah yang sangat kontras. Di satu sisi, ada Kelurahan
Tuweley (RT 01 RW 02) yang riyuh oleh aktivitas pemukiman padat dan usaha
mandiri, serta kawasan perkotaan Kelurahan Baru (RT 05 RW 05 dan RT 01 RW IX)
yang riuh oleh deretan pertokoan, SPBU Pertamina, bengkel, dan hilir mudik kendaraan. Di sini,
tantangannya adalah ritme hidup warga yang cepat dan mobilitas yang tinggi.
Namun, ujian sesungguhnya baru dimulai ketika saya melangkah ke Kelurahan Nalu
(RT 01 RW 01).
Di Nalu,
lanskap wilayah mendadak berubah drastis dan terbagi menjadi beberapa wilayah
yang bertolak belakang. Di satu sudut berdiri kompleks perumahan dinas RRI yang
rapi dan tenang. Di sudut lain, bau menyengat dan kepulan asap tipis menyambut
saya di area pemukiman warga pemulung sekitar TPA, tempat belasan keluarga
mengadu nasib dari barang bekas. Lalu, jika menengadah ke arah bukit, tampak
gubuk-gubuk warga yang berdiri terisolasi di atas gunung dan pinggiran hutan,
jauh dari keramaian kota.
Dikejar Anjing, Jalan Licin,
hingga Luapan Emosi Warga
Berada di garis
depan pendataan berarti harus siap berkompromi dengan kejutan lapangan yang tak
ada di dalam buku panduan. Medan ekstrem sudah jadi makanan sehari-hari. Kaki
ini harus terbiasa menapak jalan setapak yang licin, berbatu, dan menanjak
tajam menuju pemukiman di atas gunung. Tak jarang motor harus dititipkan di
rumah warga terluar, lalu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus
vegetasi hutan yang rapat di bawah terik matahari Tolitoli yang menyengat.
Belum lagi
urusan adrenalin terkait "penjaga wilayah". Tak terhitung berapa kali
jantung ini berdegup kencang gara-gara tiba-tiba dikerumuni dan dikejar anjing
penjaga milik warga. Dalam situasi begitu, panik dan berlari adalah kesalahan
fatal. Pilihan terbaik hanyalah berdiri mematung, mengatur napas, sambil
berharap sang pemilik rumah segera keluar memanggil peliharaannya.
Namun, jika
jujur pada diri sendiri, lelah fisik dan trauma dikejar anjing tidak ada
apa-apanya dibanding ujian mental saat mengetuk pintu rumah warga. Tidak
sedikit yang menyambut saya dengan muka masam, lipatan dahi yang dalam, bahkan
amarah yang membuncah begitu melihat atribut pendataan.
"Untuk apa
didata-data lagi, Pak? Sudah capek kami diwawancarai dari tahun ke tahun,
difoto rumahnya, tapi bantuan pemerintah tidak pernah sampai
ke sini!" cetus seorang warga dengan nada tinggi, matanya menatap tajam
penuh prasangka.
Di saat seperti
itu, rasanya ingin sekali berbalik arah. Tapi saya paham, kekecewaan mereka
memiliki akar yang dalam. Mereka merasa sering dijadikan objek pendataan tanpa
pernah merasakan dampak langsungnya. Dengan pelan, tanpa memotong pembicaraan,
saya menatap mata mereka dan mencoba memberi pengertian dengan kepala dingin.
Saya jelaskan
bahwa Sensus Ekonomi ini berdiri dipijakan yang berbeda dari pendataan bantuan
sosial atau program kemiskinan. Kami hadir bukan untuk membagi bansos,
melainkan memotret gambaran utuh roda ekonomi daerah, mulai dari usaha mikro
hingga industri, agar kebijakan pembinaan usaha, perizinan, hingga
infrastruktur perdagangan yang diambil pemerintah ke depan bisa lebih tepat
sasaran. Membutuhkan waktu, energi, dan bahasa yang membumi untuk menyampaikan
hal tersebut. Namun ketika penjelasan itu disampaikan secara tulus, perlahan
ketegangan di wajah mereka mulai mencair, berganti dengan kesediaan untuk
menjawab pertanyaan demi pertanyaan.
Segelas Kopi, Obrolan Teras,
dan Saudara Baru di Setiap Sudut Jalan
Di balik
sengatan terik, jalanan terjal, dan dinginnya penolakan awal, selalu ada
penawar lelah yang tak ternilai harganya. Bagaimanapun, jumlah warga yang
menyambut hangat jauh lebih dominan daripada yang menolak. Pintu-pintu rumah
kayu sederhana sering kali terbuka lebar bahkan sebelum saya mengetuknya,
diiringi senyum tulus dan sapaan ramah yang meluluhkan rasa lelah.
"Singgah
dulu, Pak. Istirahat sebentar, minum kopi hangat dulu," ujar seorang ibu
di lereng gunung sambil menyodorkan piring berisi cangkir teh dan pisang goreng
seadanya.Dari teras
rumah warga
yang sederhana di Tuweley, obrolan santai di sela tumpukan kardus bekas bersama
para pemulung di TPA Nalu, hingga duduk bersandar di tiang kayu rumah dinas
RRI, saya menyadari satu hal penting: masyarakat Tolitoli memiliki ruang
hospitality yang luar biasa besar. Mereka mau berbagi kisah tentang bagaimana
usaha kecil mereka bertahan, bagaimana harga komoditas berpengaruh pada dapur
mereka, hingga harapan-harapan sederhana agar anak-anak mereka bisa bersekolah
lebih tinggi.
Tugas lapangan
ini pada akhirnya melampaui sekat-sekat status sosial. Saya bisa berbincang
akrab dengan siapa saja, dari pegawai instansi pemerintah hingga pejuang rupiah
di garis paling bawah yang sering terlupakan. Pendataan ini tidak lagi terasa
seperti wawancara kaku, melainkan ruang silaturahmi yang memanusiakan.
Kini, periode
pendataan lapangan mungkin akan segera usai dan berkas-berkas dokumen akan
segera diolah secara digital. Namun, ikatan emosional yang terbangun di
lapangan tidak serta-merta menguap. Saat melintas di jalanan Baolan untuk
urusan pribadi, selalu saja ada sapaan hangat dari pinggir jalan, lambaian
tangan dari atas motor, atau candaan ringan dari warga yang pernah saya data.
"Eh, Pak Sensus! Kopi di rumah belum habis, mampir lagi!" teriak
salah seorang warga yang saya temui di pasar.
Menjadi “Pejuang
Data” di Sensus Ekonomi 2026 mengajarkan saya arti kesabaran, empati, dan
keikhlasan yang sesungguhnya. Di balik setiap lembar kertas kuisioner yang
terisi dan setiap angka statistik yang nantinya terbit di laporan resmi, ada
kisah perjuangan, ketangguhan, harapan, dan keringat nyata warga Tolitoli yang
sangat layak untuk dicatat dan diperjuangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar